METRPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan terus berupaya menekan angka stunting dengan melibatkan berbagai pihak. Kali ini melakukan gerakan orang tua asuh dengan melibatkan tokoh lintas agama.
Hal tersebut terungkap dalam acara Koordinasi Peningkatan Peran Lintas Agama dan Stakeholder dalam strategi percepatan penurunan stunting yang dilaksanakan Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P2KB) Kota Pekalongan di Aula Gedung PKK Kota Pekalongan, Selasa 23 September 2025.
Acara tersebut dihadiri perwakilan enam organisasi agama, Kantor Urusan Agama (KUA), petugas gizi, hingga berbagai stakeholder yang selama ini bergerak dalam penanganan stunting.
Baca Juga: Siswa dan Guru SMPN 15 Pekalongan Kompak Bersihkan Sekolah dan Lapangan
Wakil Wali Kota Pekalongan Hj Balgis Diab menegaskan pentingnya gotong royong dalam menyelesaikan persoalan stunting.
“Basis utama penanganan masalah stunting adalah kebersamaan. Dengan melibatkan tokoh lintas agama, kami berharap mereka menjadi lokomotif yang bisa menggerakkan banyak pihak untuk ikut serta,” ungkapnya.
Apalagi, imbuhnya, beberapa organisasi agama sebelumnya sudah menginisiasi gerakan orang tua asuh bagi anak-anak rentan stunting.
Sayangnya, sebagian program tersebut tidak berkelanjutan. Karena itu, melalui koordinasi ini, Pemkot Pekalongan berharap gerakan orang tua asuh bisa lebih konsisten minimal tiga bulan agar hasilnya signifikan.
“Kami ingin pencegahan dan penanganan stunting berjalan lebih teknis dan berkesinambungan. Melalui sinergi ini, Kota Pekalongan bisa memperkuat gerakan orang tua asuh lintas agama sekaligus mempercepat langkah menuju generasi bebas stunting,” katanya.
Kepala Dinsos-P2KB Kota Pekalongan, Yos Rosyidi, menuturkan, pelibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat adalah strategi efektif.
Baca Juga: Karena Program Kakap Emas, Wali Kota Pekalongan Raih Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2025
“Mereka punya massa dan pengaruh besar. Sosialisasi melalui tokoh agama akan lebih mudah diterima dan dipahami masyarakat,” jelasnya.
Yos juga menekankan, kontribusi lintas agama tidak hanya dalam bentuk pemberian nutrisi, tetapi bisa berupa edukasi, bantuan jamban keluarga, hingga penyediaan sanitasi.
“Artinya, pencegahan stunting tidak melulu soal gizi, tetapi juga edukasi dan perbaikan lingkungan. Ahli gizi tetap berperan mendampingi dengan edukasi dan pemantauan,” tambahnya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla