METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Dari dapur rumah tangga, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan memulai perubahan besar budaya warganya.
Alih-alih menumpuk bahan makanan yang berakhir busuk di tong sampah, Pemkot mengajak warga berbelanja secukupnya dan mengolah sisa makanan menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Semangat ini digelorakan Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan melalui kampanye konsumsi ramah lingkungan dan bijak pangan.
Gerakan ini muncul sebagai respons atas meningkatnya volume sampah organik yang kini mencapai 60 persen dari total timbunan di TPA Degayu. Sebagian besar berasal dari sisa makanan rumah tangga.
Menurut Kepala Dinperpa Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati, akar persoalan ini bukan sekadar teknis pengelolaan sampah, tetapi menyangkut kebiasaan masyarakat yang cenderung boros dan tidak terencana saat berbelanja.
“Sering kali warga membeli bahan makanan berlebihan karena tergiur harga murah atau promo. Akibatnya banyak bahan cepat membusuk dan akhirnya dibuang. Padahal kalau disesuaikan dengan kebutuhan, sampah bisa ditekan,” ujar Lili, Minggu 26 Oktober 2025.
Lili menegaskan, kebiasaan boros pangan bukan hanya pemborosan ekonomi rumah tangga, tetapi juga berdampak pada lingkungan dan kesehatan kota.
Sampah organik yang menumpuk dapat menimbulkan bau tak sedap, mengundang lalat dan tikus, serta menghasilkan gas metana yang memperparah perubahan iklim.
Untuk itu, Dinperpa menggulirkan gerakan konsumsi berkelanjutan yang dimulai dari hal kecil di dapur.
Yakni, dengan mulai belanja bahan pangan secukupnya sesuai kebutuhan keluarga, menyusun menu mingguan agar tidak ada bahan terbuang, mengolah sisa makanan menjadi kompos, eco enzyme, atau pakan ternak.
Selain itu, mengadopsi gaya hidup Zero Waste Lifestyle yang kini mulai populer di berbagai daerah.
“Mari hentikan kebiasaan boros pangan. Langkah sederhana seperti menghabiskan makanan di piring atau menyimpan bahan pangan dengan benar adalah bentuk cinta kita pada bumi dan masa depan anak-anak kita,” tegas Lili.
Dinperpa juga berkolaborasi dengan DLH dan Dinkominfo Kota Pekalongan untuk memperluas edukasi melalui media massa, media sosial, hingga penyuluhan di tingkat kelurahan.
Harapannya, perubahan gaya hidup ini bisa menular dari dapur ke seluruh lapisan masyarakat.
“Perubahan itu tak harus besar. Mulailah dari dapurmu, dari piringmu. Setiap nasi yang tak terbuang adalah langkah kecil untuk bumi yang lebih baik," ucapnya. (han/ida)