METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Awan kelabu mulai menggantung di langit pesisir utara Jawa. Aroma tanah basah dan rintik hujan kecil menandai datangnya musim penghujan 2025.
Saat sebagian warga mulai menyiapkan payung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan justru semakin sibuk.
Mereka menyiagakan Satgas dan relawan selama 24 jam penuh, memperkuat koordinasi lintas wilayah, dan rutin membersihkan sungai agar aliran air tetap lancar.
“Begitu ada hujan deras di hulu, kami langsung siaga. Informasi cepat dari BPBD Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang sangat penting agar bisa antisipasi banjir kiriman,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, Rabu 29 Oktober 2025.
Kesiapsiagaan BPBD tak sekadar simbolik. Satgas mereka dibagi dalam empat shift bergilir. Masing-masing beranggotakan lima orang yang siap diterjunkan kapan saja jika air sungai mulai naik.
Di lapangan, relawan kelurahan juga dilibatkan dalam simulasi penanganan bencana. Hingga Oktober 2025, sebanyak 21 Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) sudah terbentuk dari total 27 kelurahan, dan akan bertambah menjadi 22 dalam waktu dekat.
“Wilayah selatan kami fokuskan pada simulasi kebakaran dan gempa, sedangkan wilayah barat dan utara latihan penanganan banjir dan rob,” tutur Budi.
Koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) seperti DPUPR, DLH, dan Dinperkim juga digencarkan untuk memastikan drainase dan pompa air berfungsi optimal.
“Drainase yang lancar dan pompa air yang berfungsi baik itu kunci utama agar air cepat surut,” tegasnya.
Tak hanya berjaga, BPBD juga menerjunkan tim khusus pekarya sungai yang bertugas membersihkan eceng gondok dan sampah setiap hari.
Tim beranggotakan sembilan orang itu bekerja di bawah koordinasi langsung BPBD, dengan fokus utama di Sungai Bremi, salah satu jalur air vital Kota Pekalongan.
“Mereka bekerja setiap pagi, dari pukul 07.00 hingga 12.00. Tanpa pembersihan rutin, aliran air bisa tersumbat dan menyebabkan banjir,” ungkap Budi.
Kegiatan ini dilakukan secara bergilir dan berkelanjutan, bersinergi dengan dinas lain yang juga memiliki tanggung jawab pengelolaan sungai di wilayah masing-masing.
“Kalau ada titik darurat, semua turun tangan. Prinsipnya gotong royong,” tambahnya.
Selain menjaga kebersihan sungai, BPBD juga memantau tanggul-tanggul rawan bocor, terutama di kawasan Sungai Meduri.
Untuk meningkatkan kewaspadaan, CCTV juga dipasang di sejumlah titik strategis, termasuk di Pantai Pasir Kencana, guna memantau kondisi sungai dan pasang air laut secara real time.
“Ketika tanggul di kabupaten jebol, dampaknya langsung dirasakan warga kota. Karena itu kami tangani bersama tanpa melihat batas administrasi,” kata Budi.
Sebagai bentuk penguatan, Pemkot Pekalongan juga telah mengajukan proposal bantuan ke Kementerian PUPR untuk memperkuat tanggul-tanggul rawan pada akhir 2025 mendatang.
Budi menegaskan, kesiapsiagaan ini bukan hanya tanggung jawab BPBD, tetapi juga masyarakat. Ia mengimbau warga tetap waspada namun tidak panik saat curah hujan meningkat.
“Kami sudah siapkan personel dan peralatan, tetapi masyarakat juga perlu ikut menjaga lingkungan, terutama tidak membuang sampah ke sungai,” pungkasnya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla