METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Gedung Olah Raga (GOR) Jetayu Kota Pekalongan penuh warna-warni lampu apresiasi seni pada Senin malam 17 November 2025.
Malam itu adalah gelaran Pekalongan Art Festival (PAF) 2025 ke-9 yang sudah dinanti oleh para seniman lokal.
Wakil Wali Kota (Wawalkot) Pekalongan Hj Balgis Diab yang membuka acara menyampaikan rasa syukur adanya festival tersebut.
Ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan karya, tetapi juga jawaban atas kerinduan pelaku seni yang selama ini menunggu ruang untuk mengekspresikan ide dan menuangkan karya mereka.
“Melalui gelaran PAF ke-9 ini, setidaknya kita bisa mengobati rasa rindu para pelaku seni untuk mengekspresikan ide dan menuangkan karya melalui sarana Pekalongan Art Festival,” kata Wawalkot Balgis di hadapan ratusan penggiat seni, pemerhati budaya, dan warga yang haus ruang ekspresi.
Balgis juga menekankan keberagaman seni dan budaya di setiap daerah layak mendapat ruang yang jelas.
Festival ini menjadi jembatan antara komunitas seniman dengan publik, sekaligus tempat menegaskan eksistensi seni kreatif Kota Pekalongan.
Lebih dari itu, dalam sesi pembukaan secara simbolis diserahkan piagam penghargaan atas ditetapkannya Sego Megono dan tradisi Lopis Syawalan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Nasional oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada Oktober 2025.
Di sela-sela acara, seniman muda dan komunitas kreatif tampak antusias. Mereka berdiskusi, bertukar inspirasi dan menyiapkan karya terbaik untuk hadir di panggung.
PAF tahun ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi saksi bahwa mereka memiliki panggung untuk berbicara melalui warna, bentuk, dan suara.
“Saya sudah tidak sabar tampil, dengan seni tari yang saya geluti,” ujar Reva, salah satu penari saat bersiap tampil ke panggung.
Dengan tema dan pelaksanaan yang menyentuh, PAF 2025 menjadi lebih dari sekadar event seni. Ia adalah ruang pemulihan kreativitas, ruang peluru bagi para seniman yang merindu untuk didengar dan dilihat.
Festival ini berlangsung dari 17 hingga 19 November 2025 dengan menghadirkan ragam kegiatan, mulai dari pameran seni rupa, instalasi multimedia, pertunjukan musik eksperimental, hingga bazar karya kreatif.
Salah satunya, karya batik sepanjang 13 meter hasil kolaborasi Tamakun bersama Sobat Difabel Pekalongan juga akan dipajang sebagai simbol inklusivitas dalam dunia seni lokal. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla