METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Ratusan santri perempuan thariqah yang tergabung dalam Annitho Aswaja (Annisa At-Thoriqiyah Ahlussunnah wal Jamaah) memenuhi gedung Kanzus Sholawat Kota Pekalongan.
Pertemuan perdana sebagai organisasi perempuan di bawah naungan Jatma Aswaja (Jamiyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh Ahlussunnah wal Jamaah) ini, menegaskan tetap menjadi bagian dari warga Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan KH Hasyim Asyari, meski dengan wadah yang berbeda.
“Jangan berpendapat bahwa Jatma Aswaja (dan Annitho, red) ini bukan orang NU. Wadah memang berbeda, tapi tetap ahli sunnah wal jamaah,” tandas pendiri Jatma Aswaja Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya yang hadir langsung bersama Ketua Jatma Aswaja Kota Pekalongan Habib Hasyim Basyaeban dan Sekretaris KH Moch Kholil S.Pdi dalam pertemuan rutin selapanan di Gedung Kanzus Sholawat Jalan Dr Wahidin Kota Pekalongan, Senin 15 Desember 2025.
Dengan berpedoman tauhidnya Imam Asyari, tasawufnya Imam Al-Ghazali, dan ashab Madhab 4, yakni Imam Maliki, Imam Syafii, Imam Hanafi, dan Imam Hambali.
“Niku jadi pedoman pokok NU. Dibina para kiai sepuh, dengan merintis mendirikan pondok pesantren di pucuk gunung, di pesisir, di pelosok desa,” jelasnya.
Perlu diketahui, para kiai itu rata-rata kaya raya, memiliki persawahan yang luas. Namun hasilnya biasanya diperuntukkan para santrinya. Terutama untuk membeli beras atau membeli kitab. “Para kiai sepuh zaman dulu, justru kiai ne malah maringi dahar para santrine.”
Sedangkan Ketua Annitho Aswaja Kota Pekalongan Hj. Zahroh Zaidi M.Pdi menambahkan, Jatma Aswaja termasuk di dalamnya Annitho Aswaja, yang sudah berbadan hukum sendiri ini, telah diresmikan pada 10 Agustus 2025 di Masjid Istiqlal Jakarta. Jatma Aswaja bekerjasama dengan World Sufi Assembly (WSA) atau Ulama Sufi Dunia. Peresmiannya dihadiri 50 ribu kaum muslimin muslimat ahli thariqah se Indonesia.
“Sedangkan Kepengurusan Annitho Aswaja Kota Pekalongan akan dikukuhkan oleh Ketua Jatma Aswaja besok saat Pengajian Jumat Kliwon 19 Desember 2025 di Gedung Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan,” tandasnya.
Sementara itu, dalam acara rutinan tersebut diawali dengan membaca doa dengan Rotib Kubro yang dipimpin oleh Hj Muslihah, pembacaan tawasul oleh Hj Khotimatul Khusna, pembacaan sholawat thoriqiyah oleh Hj Siti Fatikhah, dan mengaji Kitab Safinatunnajah Hj Luthfiyah.
Dalam kajian tersebut, membahas bab wudhu. Rukun wudhu yang pertama, adalah niat. Sebagaimana niat saat melakukan takbiratul ihram dalam shalat, maka niat harus dinyatakan dalam hati bersamaan dengan takbirotul ihram.
Demikian pula saat wudhu, maka niat wudhu harus dilakukan bersamaan dengan saat membasuh wajah dengan air. Kalau tidak dilakukan niat di dalam hati bersamaan dengan membasuh wajah, maka itu tidak sah. Niat wudhu, di antaranya “Nawaitul wudhua lirof’il hadasil asghori lillahi ta’ala.”
Yang kedua, membasuh wajah hingga merata hingga batas wajah dari tempat tumbuh rambut kepala bagian atas hingga dagu atau janggut, dan dari telinga kanan hingga telinga kiri. Air wajib mengalir dan membasahi seluruh area ini, termasuk rambut tipis di wajah (seperti alis atau kumis tipis).
Ketiga, membasuh kedua tangan hingga siku. Wajib membasuh dari ujung jari hingga melewati kedua siku. Pastikan air merata, termasuk di sela-sela jari dan di bawah kuku.
Keempat, mengusap sebagian kepala. Cukup mengusap sebagian kecil dari kepala (walaupun hanya beberapa helai rambut di area batas kepala) dengan air.
Kelima, membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Wajib membasuh seluruh area kaki, dari ujung jari kaki hingga melewati kedua mata kaki. Pastikan sela-sela jari kaki juga terkena air. Dan keenam tertib.
Acara diakhiri dengan pemberian motivasi dan ijazah doa oleh Maulanan Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Yakni ijazah membaca Rotib Kubro, Rotib Atos, Rotib Hadad, Rotib Idrisiyah, bacaan Thariqah Syadaliyah, Wiridan Mbah Hasyim Asyari, Wiridan Mbah Cholil Bangkalan Madura, Shalawat Amanal Aman, dan tawasul untuk para alim ulama pejuang NU di Kota Pekalongan yang sudah wafat. (ida)
Editor : Ida Nor Layla