Dorongan kemandirian tersebut dilakukan melalui Seminar Kebangsaan bertema “Mencipta Usahawan Berjiwa Pahlawan Berwawasan Pancasila”, yang dilaksanakan oleh Yayasan MSI Cabang Kota Pekalongan di aula pertemuan Hotel Dafam Pekalongan, Rabu 17 Desember 2025. Acara tersebut diikuti 73 peserta yang meliputi kader, relawan, sekaligus penyintas TB.
Seminar ini dibuka oleh Wakil Wali Kota Pekalongan Hj Balgis Diab yang menekankan bahwa kewirausahaan tidak cukup hanya mengejar keuntungan. Tapi harus berangkat dari nilai perjuangan, integritas, dan kepedulian sosial yang berakar pada Pancasila.“Usahawan berjiwa pahlawan adalah mereka yang hadir memberikan manfaat, berani bangkit, dan ikut menguatkan ekonomi masyarakat,” tutur Balgis yang juga mengapresiasi peran MSI yang konsisten membangun kemandirian ekonomi masyarakat terdampak TB melalui pendekatan kebangsaan.
Di antara peserta, ada kisah Nur Fadilah, kader MSI dari Kelurahan Panjang Wetan, yang mencuri perhatian.
Sudah dua tahun terakhir ia rutin melakukan kunjungan ke pasien TB, dengan memberikan pendampingan, semangat, sekaligus harapan. Namun di sela tugas sosialnya, Nur juga menata masa depan dengan usaha rumahan.
“Saya ingin punya usaha sampingan, jual makanan, snack, terima pesanan kue. Yang ringan-ringan, bisa dikerjakan di rumah,” ujarnya.
Usaha itu kelak, diharapkan turut penopang perekonomian keluarga sekaligus bukti bahwa kader kesehatan pun bisa mandiri tanpa meninggalkan pengabdian. Lewat seminar ini, MSI dan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan menegaskan, pemberantasan TB tidak hanya soal kesehatan, tetapi juga memulihkan martabat dan masa depan.
Ketua Yayasan MSI Cabang Kota Pekalongan, Ira Septiawati, menjelaskan, seminar ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan bagian dari guiding program lembaga.
MSI tidak hanya mendampingi pasien saat sakit, tetapi juga melakukan follow up pasca sembuh agar para penyintas TB kembali berdaya secara sosial dan ekonomi.
“Kami ingin penyintas TB tidak berhenti pada kata sembuh, tapi naik kelas menjadi pribadi yang mandiri dan produktif,” jelas Ira.
Ia juga menyadari keberlangsungan lembaga tidak bisa dijamin selamanya. Karena itu, kemandirian ekonomi kader dan penyintas menjadi kunci agar mereka tetap berdaya guna di tengah masyarakat. (han/ida)