Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Bangkit dari Rob, Kandang Panjang–Degayu Siap Jadi Ekowisata Baru di Kota Pekalongan

Lutfi Hanafi • Kamis, 15 Januari 2026 | 01:42 WIB
 

RAKOR - Walikota Aaf saat memimpin rakor  Paparan Final Desain dan Persiapan Pembangunan Ekowisata, pada Selasa sore (13/1/2025).
RAKOR - Walikota Aaf saat memimpin rakor  Paparan Final Desain dan Persiapan Pembangunan Ekowisata, pada Selasa sore (13/1/2025).


METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan memproyeksikan dua kelurahan di Kecamatan Pekalongan Utara, yakni Kandang Panjang dan Degayu, sebagai kawasan ekowisata berbasis lingkungan.

Ini untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus mempercantik kawasan pesisir yang kini terbebas dari rob.

Komitmen tersebut ditandai dengan dibukanya secara resmi kegiatan Paparan Final Desain dan Persiapan Pembangunan Ekowisata oleh Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid yang digelar di Ruang Rapat BPK Lantai 2 Kantor BPKAD Kota Pekalongan, Selasa 13 Januari 2026.

Usai kegiatan, wali kota yang akrab disapa Mas Aaf menyampaikan rasa syukur atas terjalinnya sinergi antara Pemkot Pekalongan dan Kemitraan Indonesia dalam merealisasikan proyek ekowisata tersebut.

Menurutnya, pembangunan ini menjadi momentum penting untuk mengoptimalkan potensi wisata pesisir yang selama ini belum tergarap maksimal.

“Di Kandang Panjang, khususnya kawasan Taman Mangrove, akan dibangun restoran apung beserta sarana pendukung lainnya. Pengelolaannya nanti melibatkan Pokdarwis, sementara seluruh fasilitasi berasal dari Kemitraan,” kata Mas Aaf.

Ia menargetkan pembangunan ekowisata tersebut dapat rampung pada pertengahan 2026. Meski demikian, wali kota menekankan pentingnya pematangan tata kelola sejak awal agar pengelolaan berjalan profesional dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Saya minta tata kelolanya betul-betul dimatangkan. Harus ada MOU yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih atau saling klaim. Semua pihak, baik Pokdarwis, masyarakat, maupun kelompok lain, harus memiliki payung kerja sama yang jelas,” tegasnya.

Lebih jauh, Mas Aaf menjelaskan, pengembangan ekowisata ini merupakan bagian dari rangkaian penanganan pasca banjir dan rob di wilayah Pekalongan Utara.

Setelah kondisi relatif kondusif, fokus pembangunan kini diarahkan pada penataan kawasan, pengurangan kawasan kumuh, serta peningkatan kualitas lingkungan.

 

“Setelah penanganan banjir dan rob, penataan kawasan terus berjalan. Ditambah dukungan dari Kemitraan ini, kami optimistis wajah kelurahan pesisir akan semakin tertata dan menarik, terutama kawasan Pusat Informasi Mangrove (PIM) yang punya potensi wisata luar biasa,” ungkapnya.

Sementara itu, Team Leader Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia, Andy Kiki Andy menjelaskan, pembangunan ekowisata tersebut merupakan bagian dari Program Adaptation Fund (AF) di Kota Pekalongan.

Program ini dirancang untuk meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap dampak perubahan iklim sekaligus mengangkat sektor pariwisata dan perekonomian lokal.

 “Harapan kami, program ini bisa mendorong pariwisata Kota Pekalongan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat yang terdampak perubahan iklim, khususnya di Kandang Panjang dan Degayu,” jelas Andy.

Ia menambahkan, konsep ekowisata yang dikembangkan tidak semata berorientasi pada kunjungan wisata, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar agar mampu bertahan dan beradaptasi di wilayah rawan banjir dan rob.

Salah satu daya tarik utama yang akan dibangun adalah restoran kawasan ekowisata, yang dirancang untuk menyajikan kuliner khas Pekalongan sekaligus menjadi etalase produk UMKM lokal.

“Pengunjung tidak hanya menikmati wisata, tetapi juga kuliner khas dan produk UMKM masyarakat sekitar. Ini diharapkan dapat menggerakkan roda ekonomi warga,” terangnya.

Selain pengembangan infrastruktur, program ini juga mencakup revitalisasi ekosistem mangrove di sekitar PIM yang sebelumnya mengalami penurunan akibat faktor alam. Restorasi mangrove akan dilakukan dengan melibatkan komunitas peduli lingkungan.

Tak kalah penting, Kemitraan Indonesia juga akan memfasilitasi pembentukan, pelatihan, dan penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di kedua kelurahan tersebut agar pengelolaan ekowisata berjalan profesional, inklusif, dan berkelanjutan.

“Kami ingin Pokdarwis mampu mengelola ekowisata secara mandiri dan berkelanjutan, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat,” pungkas Andy. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#ekowisata #kota pekalongan #Degayu #Walikota Pekalongan Aaf #mangrove #pemkot pekalongan #apung #resto #pekalongan #Walikota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid