METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Sebanyak 2.450 warga masih bertahan di lokasi pengungsian dan membutuhkan suplai konsumsi serta logistik setiap hari.
Ribuan pengungsi tersebut tersebar di sejumlah titik, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kecamatan Pekalongan Barat.
Jumlah tersebut berdasarkan data Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P2KB) Kota Pekalongan hingga Rabu 21 Januari 2026.
Lokasi pengungsian antara lain berada di SD Negeri 3 Tirto, Masjid Al-Karomah, Ar-Rabithah, serta sejumlah masjid kecil di wilayah Kelurahan Tirto.
“Paling banyak memang di Pekalongan Barat. Selain itu ada di SDN 3 Tirto, Masjid Al-Karomah, masjid-masjid di Tirto, dan Ar-Rabithah. Di Pekalongan Timur juga ada, terutama di Ar-Rabithah,” kata Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P2KB) Kota Pekalongan, Yos Rosyidi.
Sementara itu, wilayah Pekalongan Selatan dan Pekalongan Utara dilaporkan relatif aman dan tidak terdapat pengungsian.
“Tahun ini, yang terdampak dan ada pengungsian, hanya di wilayah timur dan paling banyak di Pekalongan Barat,” jelas Yos.
Karena itu, pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak banjir masih terus berlanjut. Dinsos P2KB memastikan mendistribusikan makanan secara terjadwal setiap hari.
Makanan pagi dikirim mulai pukul 06.30 WIB, makan siang sekitar pukul 13.00 WIB, dan makan malam paling lambat pukul 20.00 WIB.
Selain makanan siap saji, bantuan logistik juga terus berdatangan dari berbagai pihak, termasuk program CSR PLN, sejumlah OPD Provinsi Jawa Tengah, serta bantuan melalui BPBD.
Bantuan yang masuk ke Dinsos P2KB antara lain berupa family kit, pakaian anak, tikar, dan matras, yang sebagian besar disalurkan ke Kecamatan Pekalongan Barat.
Ke depan, bantuan tambahan dari pemerintah pusat juga akan segera diterima, berupa matras, tikar, lauk siap saji, makanan siap saji, serta kebutuhan anak-anak.
Sebagian bantuan, khususnya matras, akan dijadikan inventaris tetap di lokasi rawan banjir seperti Ar-Rabithah, Masjid Al-Karomah, dan wilayah Pekalongan Barat.
“Selama penanganan Sungai Bremi belum tuntas, potensi banjir masih akan terus ada. Karena itu, kesiapsiagaan logistik dan konsumsi harus selalu siap,” pungkas Yos.
Di luar pengungsian resmi, masih banyak warga yang memilih bertahan di rumah masing-masing untuk menjaga harta benda dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Meski tidak mengungsi, kelompok ini tetap membutuhkan bantuan logistik dan konsumsi harian.
Kondisi tersebut mendorong kolaborasi lintas sektor. Selain dari Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, bantuan juga datang dari berbagai komunitas, organisasi kemasyarakatan, LSM, hingga organisasi keagamaan.
Para relawan mendirikan dapur umum mandiri dan secara rutin menyalurkan makanan, baik ke lokasi pengungsian maupun ke rumah warga yang terdampak langsung.
Salah satunya dirasakan Triyono, warga Tirto Gang 1, Kelurahan Tirto, yang memilih bertahan di rumahnya.
“Bantuan konsumsi dari relawan sangat membantu warga yang tidak mengungsi,” katanya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla