METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Menjelang Lebaran, aktivitas ekonomi di Kota Pekalongan mulai menggeliat.
Di berbagai sudut kota, pedagang kaki lima (PKL) bermunculan memanfaatkan momentum Ramadan untuk meraup rezeki.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan memilih pendekatan yang lebih humanis dalam menata keberadaan para pedagang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pekalongan Nur Priyantomo menegaskan, penataan PKL bukan hanya persoalan ketertiban kota, tetapi juga menyangkut kebutuhan hidup masyarakat kecil.
“Kalau kita bicara PKL itu antara urusan perut dan penegakan Perda. Dengan kondisi ekonomi sekarang, rasanya kurang tepat jika dilakukan secara represif. Jadi kita saling memaklumi,” kata Nur Priyantomo, yang akrab disapa Nur Pri, Rabu malam 4 Maret 2026.
Baca Juga: Kirab Imlek 2577 Kota Pekalongan Meriah, Toleransi Kian Menguat
Melalui pendekatan yang humanis dan kolaboratif, pemerintah berharap penataan PKL dapat berjalan tanpa mengorbankan mata pencaharian masyarakat kecil.
Harapannya, kota tetap tertata rapi sementara para pedagang tetap memiliki ruang untuk mencari nafkah menjelang Lebaran.
Kondisi tersebut tidak lepas dari situasi ekonomi, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor yang mendorong masyarakat beralih mencari penghasilan melalui usaha kecil.
“Kalau ada PHK, biasanya orang memilih berjualan. Ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah,” tuturnya. (han/ida)