Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Tradisi Syawalan Lopis Raksasa Mendunia, Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Lutfi Hanafi • Selasa, 31 Maret 2026 | 12:40 WIB
POTONG LOPIS : Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid saat memotong salah satu lopis raksasa di Krapyak Pekalongan Utara, Sabtu 28 Maret 2026. (DOK. PEMKOT PEKALONGAN)
POTONG LOPIS : Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid saat memotong salah satu lopis raksasa di Krapyak Pekalongan Utara, Sabtu 28 Maret 2026. (DOK. PEMKOT PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Tradisi lopis raksasa kembali menjadi magnet utama perayaan Syawalan di Kota Pekalongan.

Ribuan warga memadati kawasan Krapyak, Sabtu 28 Maret 2026, untuk menyaksikan prosesi pemotongan lopis berukuran jumbo yang sarat makna kebersamaan dan gotong royong.

Istimewanya saat ini, tradisi ini telah diakui nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Bertempat di dua titik utama, yakni Gang 8 dan Gang 1 Kelurahan Krapyak. Tradisi tahunan ini kembali tampil spektakuler.

Di Krapyak Gang 8, lopis raksasa tercatat memiliki berat 2.083 kilogram dengan lingkar 262 sentimeter dan tinggi 239 sentimeter.

Sementara di Gang 1, ukuran lopis bahkan mencapai 2,5 ton dengan tinggi 225 sentimeter dan diameter 75 sentimeter.

Kehadiran Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid bersama Wakil Wali Kota Balgis Diab, serta jajaran Forkopimda menambah semarak acara.

Prosesi pemotongan lopis yang dilakukan secara simbolis pun disambut antusias warga yang telah menanti sejak pagi.

Wali kota yang akrab disapa Mas Aaf mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya tradisi Syawalan yang terus berkembang setiap tahunnya.

Ia menilai, ukuran lopis yang semakin besar mencerminkan meningkatnya partisipasi dan semangat gotong royong masyarakat.

“Alhamdulillah, setiap tahun semakin besar dan semakin meriah. Ini bukti kebersamaan warga, panitia, dan semua pihak yang terlibat,” ujarnya.

Lebih dari sekadar atraksi kuliner, tradisi lopis raksasa menyimpan filosofi mendalam. Tekstur lopis yang lengket melambangkan eratnya persaudaraan, sementara ukurannya yang besar mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Krapyak dalam menyambut tamu Syawalan.

Terpenting, pengakuan tradisi lopis yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya lokal. Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan akan terus menjaga dan mengembangkan tradisi ini.

Tidak hanya mempertahankan lopis raksasa sebagai ikon Syawalan, tetapi juga mendorong pengakuan terhadap kekayaan budaya lainnya.

“Ke depan, kami akan terus melestarikan tradisi ini sekaligus mengusulkan budaya-budaya lokal lainnya agar semakin memperkuat identitas Kota Pekalongan,” tegas Mas Aaf.

Sebagai bentuk kepedulian sosial, wali kota juga mengusulkan agar sebagian lopis dibagikan kepada warga di wilayah terdampak banjir, seperti Pasir Sari dan sekitarnya. Harapannya, seluruh masyarakat dapat merasakan kebahagiaan Syawalan.

Perayaan Syawalan di Pekalongan tidak hanya diwarnai oleh lopis raksasa, tetapi juga rangkaian kegiatan seperti festival balon udara di Stadion Hoegeng serta sajian getuk lindri raksasa.

Seluruh rangkaian ini menjadikan Pekalongan sebagai salah satu destinasi budaya yang kian diperhitungkan. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Lopis Raksasa Krapyak #kota pekalongan #syawalan