Kulturpedia Ajak Anak Muda Kenal Sejarah Oey Soe Tjoen Lewat Historide dan Diskusi Buku

Nanang Rendi Ahmad • Dipublikasikan Selasa, 31 Maret 2026 | 14:20 WIB
JANGAN LUPAKAN SEJARAH : Acara diskusi buku Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan, yang dihelat oleh Kulturpedia di Saji Space Pekajangan, Kedungwuni, Minggu 29 Maret 2026. (DOK. PRIBADI)
JANGAN LUPAKAN SEJARAH : Acara diskusi buku Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan, yang dihelat oleh Kulturpedia di Saji Space Pekajangan, Kedungwuni, Minggu 29 Maret 2026. (DOK. PRIBADI)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Batik Oey Soe Tjoen genap berusia satu abad tahun 2025 lalu.

Namun eksistensi rumah batik legendaris asal Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, tersebut saat ini tengah menghadapi tantangan regenerasi.

Hal itu mengemuka dalam acara diskusi publik bedah buku Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan, yang sukses dihelat oleh Kulturpedia di Saji Space Pekajangan, Kedungwuni, Minggu 29 Maret 2026.

Kegiatan bertajuk "Oey Soe Tjoen: Bertahan Melintasi Zaman" tersebut berlangsung hangat. Menghadirkan Nanang Rendi Ahmad (tim penulis buku) bersama sejumlah narasumber yakni Andika Nugraha (Omah Sinau Sogan), Dirhamsyah (pegiat sejarah Pekalongan), Rose Diana (Dindikbud Kabupaten Pekalongan), dan Widianti Widjaja/Oey Kiem Lian (cucu Oey Soe Tjoen).

Dipandu oleh moderator Isman Habibilah (kreator konten sejarah Pekalongan) dan Zey Jauhara (mahasiswa Pekalongan).

Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang Batik Oey Soe Tjoen. Visualisasi tersebut memperlihatkan secara singkat perjalanan Batik Oey Soe Tjoen sejak berdiri hingga sekarang.

Film ini mengundang rasa haru peserta lantaran disebutkan, Batik Oey Soe Tjoen berpotensi berhenti produksi karena belum adanya penerus.

"Film dokumenter ini kami buat sebagai apresiasi sekaligus bukti digital bahwa ada brand batik yang masih eksis hingga satu abad," terang Kulturpedia.

Dalam sesi diskusi, Nanang mengungkapkan bahwa buku yang ditulisnya merupakan upaya mendokumentasikan perjalanan panjang batik tulis Oey Soe Tjoen yang dirintis sejak tahun 1925.

“Salah satu latar belakang buku ini kami tulis yakni karena ada fakta bahwa keluarga Oey Soe Tjoen belum punya sosok penerus. Seperti yang disebutkan Mbak Widia (Widianti Widjaja), bahwa apabila tidak ada penerus, berarti Batik Oey Soe Tjoen akan tutup," ungkapnya.

Sementara itu Widianti Widjaja dalam diskusi mengatakan, menghentikan Batik Oey Soe Tjoen justru merupakan pilihan logis dibanding tetap berlanjut namun kualitas turun. Sebagai  generasi ketiga, Widia merasa perlu menjaga Batik Oey Soe Tjoen agar tidak jatuh kepada tangan yang salah.

"Anak saya tidak ada passion ke sana. Dan saya juga tidak pernah memaksa mereka untuk melanjutkan Batik Oey Soe Tjoen. Saya pikir, berhenti dengan hancur itu berbeda. Lebih baik berhenti, daripada hancur," ucapnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara. Tidak hanya dari kalangan pecinta batik, perserta yang hadir datang dari berbagai latar belakang, antara lain mahasiswa, pegiat budaya, hingga komunitas sepeda.

 

HISTORIDE : Kulturpedia berkolaborasi dengan komunitas sepeda KMJ Saikel Klub saat mengunjungi eks rumah Hoo Tjien Siong di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Minggu 29 Maret 2026. (DOK. PRIBADI)
HISTORIDE : Kulturpedia berkolaborasi dengan komunitas sepeda KMJ Saikel Klub saat mengunjungi eks rumah Hoo Tjien Siong di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Minggu 29 Maret 2026. (DOK. PRIBADI)

Mengenalkan Sejarah dengan Lebih Santai

Kulturpedia mengemas acara dengan suasana santai dan tidak formal. Menariknya, sebelum dibawa ke ruang diskusi, sebagian peserta diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah dengan bersepeda (Historide).

Berkolaborasi dengan komunitas sepeda KMJ Saikel Klub, Kulturpedia mengunjungi rumah peninggalan Hoo Tjien Song dan rumah Batik Oey Soe Tjoen. Dua tempat tersebut merupakan saksi sejarah perjalanan Batik Oey Soe Tjoen.

Rumah Hoo Tjien Siong pernah menjadi tempat persembunyian keluarga Oey Soe Tjoen ketika kekacauan politik tahun 1947 atau yang dikenal dengan peristiwa Masa Bersiap.

Saat itu rumah Oey Soe Tjoen menjadi sasaran penjarahan, sehingga keluarga bersembunyi di rumah Hoo Tjien Siong.

Reza, salah satu peserta Historide mengaku mendapat pengetahuan baru setelah mengikuti rangkaian acara.

"Menurutku ini acara yang membuka wawasan. Ternyata di Kedungwuni ada pengrajin batik legendaris yang besar pada masanya," ucapnya.

Saiful Anwar, Pemandu Lawatan Historide menyebutkan bahwa Kulturpedia ingin memberikan edukasi sejarah dengan berbeda.

Biasanya sejarah diajarkan dengan ceramah dalam kelas dengan penuh hafalan tahun dan tokoh. Namun kali ini edukasi sejarah dibalut dengan berbagai acara unik.

Seperti historide, dimana peserta diajak langsung ke situs sejarah yang berkaitan dengan Batik Oey Soe Tjoen dengan naik sepeda.

Selain untuk menghemat BBM, historide memberikan pengalaman belajar sejarah yang menyenangkan sekaligus menyehatkan.

"Ini merupakan trobosan yang menarik untuk mengedukasi sejarah kepada kalangan anak muda dengan cara yang unik," terangnya.

Rangkaian acara tersebut merupakan bagian dari program Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB) Dana Indonesiana 2023 yang didukung Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP.

Melalui buku, film dokumenter, dan historide tersebut, diharapkan jejak Batik Oey Soe Tjoen tidak hanya dikenang, tetapi juga menjadi inspirasi lintas generasi. (web/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
kota pekalongan batik oey soe tjoen batik pekalongan sejarah