Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Ajak Pelajar Cegah Banjir, Dimulai dari Sampah Rumah

Lutfi Hanafi • Jumat, 3 April 2026 | 18:42 WIB
DISKUSI : Tim Blue Deal berdiskusi dengan para pelajar di Ruang Serba Guna SMP Negeri 1 Kota Pekalongan, Kamis 2 April 2026. (LUTFI HANAFI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
DISKUSI : Tim Blue Deal berdiskusi dengan para pelajar di Ruang Serba Guna SMP Negeri 1 Kota Pekalongan, Kamis 2 April 2026. (LUTFI HANAFI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Puluhan pelajar tingkat SD dan SMP se-Kota Pekalongan diajak memahami pentingnya pengelolaan air serta berperan dalam mencegah banjir dan rob.

Melalui program kolaborasi internasional Blue Deal, menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Kegiatan edukasi tersebut berlangsung di Ruang Serba Guna SMP Negeri 1 Kota Pekalongan, Kamis 2 April 2026. Acara tersebut diikuti sekitar 60 pelajar perwakilan sekolah dari berbagai wilayah.

Suasana interaktif terlihat saat para siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berdiskusi dan menjawab pertanyaan seputar isu lingkungan.

Perwakilan Blue Deal, Marcel mengungkapkan, edukasi ini menjadi langkah awal membangun kesadaran kolektif generasi muda dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Ia mencontohkan pengalamannya Belanda yang dikenal sukses mengelola air, meski sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut.

“Di Belanda, pengelolaan air dilakukan secara terintegrasi, mulai dari tanggul, bendungan, hingga rumah pompa. Semua dirancang untuk menghadapi banjir dan kenaikan permukaan laut,” jelasnya.

Namun tantangan di Kota Pekalongan memiliki karakteristik tersendiri. Selain ancaman rob, kota ini juga menghadapi persoalan penurunan muka tanah yang mencapai 10 hingga 15 sentimeter per tahun.

Kondisi tersebut diperparah oleh perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai.

“Permasalahan ini tidak hanya bisa diselesaikan dengan infrastruktur. Wajib ada perubahan perilaku masyarakat yang menjadi kunci utama. Dan itu bisa dimulai dari generasi muda,” tegas Marcel.

Ia menekankan pentingnya mencari sumber air alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah yang selama ini menjadi salah satu penyebab penurunan permukaan tanah.

Salah satu solusinya adalah pemanfaatan air sungai yang telah melalui proses pengolahan, sehingga aman digunakan.

Namun demikian, upaya tersebut harus diiringi dengan kesadaran menjaga kebersihan sungai. Tanpa perubahan perilaku, sungai akan terus tercemar dan sulit dimanfaatkan secara optimal.

Perwakilan Blue Deal lainnya, Britt menegaskan, pelajar memiliki peran strategis sebagai agen perubahan.

Ia menyebutkan, langkah sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mengelola limbah rumah tangga, berarti sudah memberikan kontribusi besar dalam mencegah banjir.

“Hal kecil seperti mengumpulkan sampah dan memastikan tidak masuk ke saluran air sangat penting. Sampah yang menyumbat aliran air bisa memicu banjir,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mualim, mengatakan, kegiatan ini sangat relevan dengan kondisi geografis Pekalongan yang rawan banjir dan rob.

Edukasi semacam ini merupakan upaya jangka panjang dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar.

“Kami ingin siswa tidak hanya paham, tetapi juga mampu menyebarkan pengetahuan ini ke lingkungan sekitarnya. Mereka bisa menjadi agen perubahan di masyarakat,” tuturnya.

Pihaknya saat ini tengah mendorong penerapan kurikulum kebencanaan di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Kurikulum tersebut diharapkan mampu membekali siswa dengan pengetahuan praktis terkait mitigasi bencana, termasuk banjir dan rob yang kerap melanda Kota Pekalongan.

Menurutnya, kondisi geografis Pekalongan yang berada di wilayah pesisir menyebabkan aliran air hujan sering terhambat saat terjadi pasang laut. Situasi ini menyebabkan genangan air bertahan lebih lama dan meningkatkan risiko banjir.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelajar.

Dengan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, Kota Pekalongan diharapkan mampu menjadi kota yang lebih tangguh menghadapi ancaman banjir di masa depan.

“Karena itu, kesadaran menjaga lingkungan menjadi sangat penting. Mulai dari hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan hingga menjaga kebersihan saluran air,” imbuhnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para pelajar aktif bertanya, berdiskusi, bahkan mengikuti kuis yang diberikan narasumber dengan penuh semangat.

Hal ini membuktikan, bahwa isu lingkungan mulai mendapat perhatian serius dari generasi muda. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#kota pekalongan #banjir #sampah