METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Sorak sorai dukungan suporter Turnamen Mobile Legends memenuhi Aula Wicaksana Laghawa, Polres Pekalongan Kota, Rabu 15 April 2026. Turnamen Mobile Legends “Bang Bang Kapolres Cup 2026” ini diikuti 16 tim.
Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Riki Yariandi mengatakan, turnamen ini bukan sekadar adu skill, melainkan jembatan komunikasi antara polisi dan generasi muda atau Gen Z.
“Kami ingin anak-anak muda punya ruang positif untuk menyalurkan minat dan kreativitasnya,” ujarnya.
Melalui turnamen ini, Polres ingin merangkul berbagai kalangan, mulai dari Gen Z hingga milenial, sekaligus mengarahkan energi anak muda ke kegiatan yang lebih produktif.
“Kami ingin mengalihkan dari hal-hal negatif seperti tawuran atau balap liar ke kegiatan yang lebih positif,” imbuh Kapolres.
Turnamen ini memperebutkan total hadiah Rp 10 juta, dengan masing-masing tim beranggotakan 5 hingga 6 pemain.
Kompetisi ini kali pertama digelar oleh Polres Pekalongan Kota, dan direncanakan akan berlanjut ke event yang lebih besar.
“Ke depan, kami harapkan ada turnamen lanjutan. Termasuk Wali Kota Cup Mobile Legends,” harapnya.
Istimewa turamen ini adalah keterlibatan peserta dari kalangan difabel. Salah satunya tim tuna rungu dari SLB Kota Pekalongan yang turut unjuk kemampuan.
Bahkan, tim difabel ini mampu memberikan kejutan dengan mengalahkan tim dari Polres Pekalongan Kota.
“Kami sangat senang teman-teman difabel ikut berpartisipasi. Ini bukti bahwa e-sport itu inklusif dan semua orang punya kesempatan yang sama,” kata AKBP Riki.
Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan. Kepala Bidang SMP, Mualim, menilai kegiatan ini sebagai langkah positif dalam membangun lingkungan yang kondusif bagi pelajar.
“Kami sangat mengapresiasi turnamen ini. Tentu menjadi sarana edukasi agar pelajar lebih bijak menggunakan gadget dan media sosial,” katanya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat membentuk karakter generasi muda agar lebih kreatif dan menjauh dari perilaku negatif di era digital. Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang turnamen.
Salah satu peserta, Galih, siswa tuna rungu, mengaku senang bisa terlibat dalam ajang tersebut.
Melalui pendampingnya, ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dan memberi ruang lebih luas bagi komunitas difabel. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla