METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Lonjakan naiknya kasus campak di Indonesia, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan bergerak cepat.
Kini ratusan tenaga kesehatan (nakes) diprioritaskan untuk menjalani vaksinasi sebagai langkah pencegahan dini.
Program percepatan vaksinasi ini dijadwalkan mulai akhir April 2026. Dengan sasaran utama para nakes yang memiliki risiko tinggi terpapar penyakit menular di fasilitas layanan kesehatan.
Programer Imunisasi Dinkes Kota Pekalongan, Samsiyah Ratnawati mengungkapkan, tren kasus campak secara nasional menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan.
Pada 2025, tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi positif setelah uji laboratorium.
“Sekitar 24,6 persen kasus suspek yang diperiksa benar-benar positif. Ini angka yang tinggi dan harus diantisipasi agar tidak berkembang menjadi wabah,” katanya, Kamis 16 April 2026.
Di tingkat regional, Jawa Tengah juga mencatat peningkatan kasus pada 2026 dengan sedikitnya 11 anak terjangkit campak dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Bahkan, kasus kematian tenaga medis akibat campak di Jawa Barat turut menjadi alarm serius bagi sektor kesehatan.
Merespons kondisi tersebut, Dinkes Pekalongan menargetkan vaksinasi bagi sekitar 400 nakes, meliputi dokter, perawat, bidan, tenaga gizi, hingga petugas penunjang layanan kesehatan. Saat ini, proses validasi data sasaran masih terus dilakukan.
“Ketersediaan vaksin sudah siap. Kami juga telah menerima surat edaran dari Kementerian Kesehatan dan sedang melakukan sosialisasi. Tinggal menunggu arahan lanjutan dari provinsi,” jelasnya.
Langkah ini mendapatkan respons positif dari kalangan tenaga kesehatan. Mereka dinilai memahami pentingnya vaksinasi, tidak hanya untuk perlindungan diri, tetapi juga sebagai tanggung jawab profesional dalam mencegah penularan kepada pasien.
Vaksinasi campak dinilai efektif dalam meningkatkan kekebalan individu sekaligus membentuk kekebalan kelompok (herd immunity), terutama di lingkungan layanan kesehatan yang rentan terhadap penyebaran penyakit.
“Dengan kondisi tubuh yang sehat dan terlindungi, nakes bisa bekerja optimal serta mencegah transmisi penyakit di lingkungan kerja,” tambah Samsiyah.
Dinkes pun mengimbau seluruh tenaga kesehatan, termasuk non-medis, untuk aktif mengikuti program ini.
Selain sebagai upaya perlindungan, nakes diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat dalam membangun kesadaran vaksinasi.
“Tenaga kesehatan adalah garda terdepan. Mereka harus sehat agar tidak tertular dan tidak menjadi sumber penularan,” pungkasnya. (han/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan