METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang Sekolah Dasar (SD) di Kota Pekalongan resmi dimulai pada 20 hingga 30 April 2026.
Tahun ini, TKA hadir dengan peran yang lebih strategis. Tidak hanya sebagai alat ukur kemampuan akademik, tetapi juga menjadi salah satu penentu utama dalam seleksi jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Sebanyak 3.123 siswa SD sederajat dipastikan mengikuti TKA dengan tingkat partisipasi mencapai 100 persen.
Koordinator TKA Kota Pekalongan, Karyono menyampaikan, seluruh siswa yang terdaftar mengikuti kegiatan tersebut tanpa terkecuali.
“Total ada 3.123 siswa dan semuanya ikut. Partisipasinya 100 persen. Ini menunjukkan kesiapan sekolah maupun siswa dalam menghadapi TKA tahun ini,” ungkapnya, Senin 20 April 2026.
Untuk menjamin pelaksanaan berjalan lancar dan tertib, TKA dibagi ke dalam lima gelombang.
Setiap gelombang berlangsung selama dua hari. Pola ini diterapkan untuk mengakomodasi seluruh peserta, baik dari sekolah formal maupun lembaga nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Untuk sekolah formal dilaksanakan hari Senin sampai Kamis, sementara PKBM dijadwalkan Sabtu dan Minggu. Hari Jumat digunakan sebagai jeda, kemudian pola ini berulang pada minggu berikutnya,” jelas Karyono.
Dalam pelaksanaannya, siswa akan mengerjakan dua mata pelajaran utama, yaitu Bahasa Indonesia pada hari pertama dan Matematika pada hari kedua. Masing-masing mata pelajaran terdiri atas 30 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 75 menit.
Meski TKA tidak menjadi penentu kelulusan siswa, fungsi utamanya tetap krusial. Tes ini digunakan sebagai alat ukur objektif untuk mengetahui kemampuan akademik siswa sekaligus sebagai validator terhadap nilai rapor yang diberikan oleh sekolah.
“TKA ini bukan penentu kelulusan, tetapi sebagai alat ukur kemampuan akademik. Pemerintah ingin memastikan bahwa nilai rapor benar-benar mencerminkan kompetensi siswa secara objektif,” tegasnya.
Lebih jauh, hasil TKA kini menjadi salah satu komponen penting dalam seleksi jalur prestasi pada SPMB.
Nilai TKA akan digabungkan dengan rata-rata nilai rapor siswa sejak kelas 4 semester 2 hingga kelas 6, serta nilai dari sertifikat kejuaraan baik akademik maupun non-akademik.
“Untuk jalur prestasi, nilai TKA sangat berpengaruh. Ini menjadi salah satu indikator dalam seleksi, sehingga siswa harus mempersiapkan diri dengan baik,” tambahnya.
Namun demikian, bagi siswa yang mendaftar melalui jalur domisili, nilai TKA tidak menjadi syarat wajib.
Hal ini memberikan pilihan bagi siswa sesuai dengan jalur yang akan diambil dalam SPMB.
Menariknya, karena ini merupakan tahun pertama pelaksanaan TKA dengan skema tersebut, sistem pembobotan nilai belum diterapkan.
Seluruh komponen penilaian masih dijumlahkan secara langsung sebagai bahan pertimbangan seleksi.
“Belum ada persentase pembobotan. Nilai rapor, TKA, dan sertifikat dijumlahkan. Ke depan akan dievaluasi untuk penyempurnaan sistem,” terang Karyono.
Dari sisi penyusunan soal, TKA merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, dengan komposisi masing-masing 50 persen.
Setiap daerah, termasuk Kota Pekalongan, mengirimkan perwakilan guru untuk terlibat dalam penyusunan soal agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah.
Di tingkat sekolah, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempersiapkan siswa menghadapi TKA.
Kepala SD Negeri Podosugih 01 Kota Pekalongan, Resti Pramita, menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua.
“Kami melibatkan semua pihak, tidak hanya guru kelas 6, tetapi seluruh warga sekolah dan orang tua siswa. Ini menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi TKA,” ujarnya.
Sekolah juga menyiapkan berbagai program pendukung, seperti tambahan jam belajar di luar jam pelajaran reguler, pelaksanaan try out, hingga pemanfaatan teknologi melalui Learning Management System (LMS) berbasis website sekolah.
“Melalui LMS, siswa bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Orang tua juga bisa memantau perkembangan anaknya,” tambahnya.
Guru pembimbing kelas 6, Ika Weni Tiara menyebutkan, persiapan sudah dilakukan sejak awal semester dua.
Program tambahan belajar dilaksanakan secara rutin dan siswa dibagi dalam kelompok berdasarkan kemampuan agar pembelajaran lebih efektif.
“Ada kelompok yang cepat memahami materi dan ada yang perlu pendampingan lebih intensif. Kami juga berkolaborasi dengan guru lain untuk memperkuat pemahaman siswa, terutama di Matematika,” jelasnya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla