Batik Pewarna Alami Kian Diminati, Perajin Pekalongan Andalkan Bahan Ramah Lingkungan

Magang • Dipublikasikan Senin, 6 Juli 2026 | 22:04 WIB
BUTUH WAKTU LEBIH LAMA : Proses pembuatan batik ekologis atau batik ramah lingkungan membutuhkan proses pembuatan lebih lama dari batik umum lainnya. (MOCH FALAHUDDIN/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
BUTUH WAKTU LEBIH LAMA : Proses pembuatan batik ekologis atau batik ramah lingkungan membutuhkan proses pembuatan lebih lama dari batik umum lainnya. (MOCH FALAHUDDIN/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Batik ramah lingkungan atau eco batik berbahan pewarna alami semakin diminati masyarakat, khususnya generasi muda.

Hal ini membuktikan adanya peningkatan kesadaran terhadap lingkungan dan menjaga budaya, tapi tetap fashionable.

Pemilik usaha batik pewarna alami, Sri Riski, mengungkapkan, batik ekologis dibuat dari bahan-bahan alami seperti kayu mahoni, kayu tegeran, kayu tingi, daun indigofera, hingga daun ketapang.

Penggunaan bahan baku alami ini tidak hanya untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mempertahankan nilai seni batik tradisional melalui proses produksi yang memerlukan waktu hingga satu hingga satu setengah bulan kurang lebih.

Sri Riski menjelaskan, batik pewarna alami merupakan inovasi yang memadukan warisan budaya dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Seluruh proses pembuatannya, mulai dari penggunaan bahan baku, pewarnaan, hingga pengelolaan limbah, dilakukan tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya sehingga lebih ramah terhadap lingkungan.

BATIK EKOLOGIS : Proses pembuatan batik ekologis atau batik ramah lingkungan membutuhkan proses pembuatan lebih lama dari batik umum lainnya. (MOCH FALAHUDDIN/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
BATIK EKOLOGIS : Proses pembuatan batik ekologis atau batik ramah lingkungan membutuhkan proses pembuatan lebih lama dari batik umum lainnya. (MOCH FALAHUDDIN/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

"Bahan pewarna yang kami gunakan berasal dari alam, seperti kayu mahoni, kayu tegeran, kayu tingi, daun indigofera, daun ketapang, dan beberapa tanaman lainnya. Setiap bahan menghasilkan warna yang berbeda-beda sehingga memberikan karakter khas pada setiap lembar batik," ujar Sri Riski di Pekalongan.

Menurutnya, proses pembuatan batik pewarna alami membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan batik dengan pewarna sintetis.

Satu lembar batik dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu hingga satu setengah bulan karena melalui beberapa tahapan pewarnaan dan proses pengeringan alami.

Prosesnya dimulai dari kain putih yang dicap terlebih dahulu. Setelah itu kain direndam dalam larutan pewarna selama sekitar 15 menit, kemudian diangkat dan didiamkan hingga satu bulan agar warna benar-benar meresap dan tidak mudah pudar.

“Setelah itu dilakukan proses pengolesan warna, dilanjutkan perendaman kembali dengan warna lain agar menyatu, lalu dikeringkan secara alami. Waktu paling lama memang pada proses menunggu kain benar-benar kering dan warna menyerap sempurna," jelasnya.

BATIK WARNA ALAM : Proses pembuatan batik ekologis atau batik ramah lingkungan membutuhkan proses pembuatan lebih lama dari batik umum lainnya. (MOCH FALAHUDDIN/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
BATIK WARNA ALAM : Proses pembuatan batik ekologis atau batik ramah lingkungan membutuhkan proses pembuatan lebih lama dari batik umum lainnya. (MOCH FALAHUDDIN/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

Sri Riski mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir minat masyarakat terhadap batik pewarna alami mulai meningkat.

Menurutnya, warna-warna yang dihasilkan cenderung lembut atau kalem sehingga banyak diminati, terutama oleh kalangan anak muda.

"Alhamdulillah sekarang peminatnya mulai ramai. Banyak yang suka karena warnanya lebih kalem, tidak terlalu mencolok, dan tetap terlihat elegan. Ternyata generasi muda juga mulai menyukai batik pewarna alami," katanya.

Meski demikian, ia mengakui harga batik pewarna alami relatif lebih tinggi dibandingkan batik biasa. Hal tersebut disebabkan proses produksi yang memerlukan waktu lebih lama, penggunaan bahan alami, serta biaya produksi yang lebih besar.

"Harga memang sedikit lebih mahal karena proses pembuatannya panjang dan biaya produksinya juga lebih tinggi. Namun kami berharap masyarakat memahami bahwa kualitas dan proses ramah lingkungan menjadi nilai tambah dari batik ini," tuturnya.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, Sri Riski terus memanfaatkan berbagai platform untuk memperluas pemasaran.

Selain mengikuti pameran melalui komunitas batik ekologis, produknya juga dipasarkan secara online dan telah dikirim ke berbagai kota di Indonesia.

"Sekarang zamannya digital, jadi kami harus aktif mempromosikan batik ramah lingkungan melalui media online. Selain ikut pameran bersama komunitas batik ekologis, pemesanan juga bisa dilakukan lewat WhatsApp. Setelah itu kami kirim menggunakan jasa ekspedisi ke berbagai kota," pungkasnya.

Sri Riski berharap batik pewarna alami semakin dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai produk budaya yang tidak hanya memiliki nilai seni tinggi, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan melalui penggunaan bahan-bahan alami yang berkelanjutan. (moch.falahuddin/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
batik ekologis batik warna alam batik ramah lingkungan kota pekalongan