METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Coffee street tak seperti kafe-kafe penyedia kopi di Kota Pekalongan pada umumnya yang buka mulai siang atau sore hingga malam hari.
Tapi coffee street ini buka setelah Subuh, tepatnya mulai pukul 06.00 WIB. Bagi pecinta kopi yang kerap minum di pagi hari, ini sangat cocok.
Coffee street biasanya mangkal dengan sepeda roda 3 di sepanjang Jalan Diponegoro, Kota Pekalongan.
Dari kejauhan, memang terlihat tak ada yang luar biasa, hanya coffee street atau kopi jalanan bertajuk Kopi Sepeda dengan box yang disulap menjadi mini bar dadakan.
Lengkap dengan perlengkapan kopi ala café dengan mesin mini dan perlengkapan kopi lainnya.
Pemilik kopi sepeda, Aprodita mengatakan, sebagai orang yang lama tinggal di Yogyakarta, sudah terbiasa minum kopi di pagi hari. Namun ketika di Pekalongan tak banyak kafe yang buka di pagi hari.
Hanya ada satu kopi jalanan dengan pilihan terbatas. Kebiasaan itu membuat Aprodita membuka usaha kopi jalanan dengan sepeda pertama di Kota Pekalongan
“Ternyata orang Pekalongan banyak yang suka lari dan bersepeda di pagi hari. Saya pun berharap positif, mungkin mereka bisa jadi pelanggan saya,” ujarnya Kamis 9 Juli 2026.
Ternyata benar, seminggu pertama berjualan, kopi sepedanya mendapatkan respon baik. Bahkan kini, 80 persen adalah pelanggan setia yang hampir setiap hari datang.
“Saya bahkan selalu minum satu menu setiap harinya, untuk memastikan rasa kopi tidak berubah. Kalau berubah, pelanggan pasti bisa merasakannya,” katanya.
Yang membuat kopi sepeda ini semakin menarik adalah, kopinya fresh dan hanya menyediakan menu yang menekankan rasa kopi itu sendiri.
Aprodita menjelaskan, kopi Arabica yang ia gunakan digiling menggunakan mesin, agar menciptakan rasa yang konsisiten. Meskipun mesin kecil itu memiliki limit. “Itu kenapa saya hanya membawa 20 cup, paling banyak ya 25 cup lah,” ujarnya.
Seorang pembeli yang hampir setiap hari mampir setalah sesi bersepeda mengatakan, ia rela menggayuh sepeda jauh untuk menikmati kopi sembari duduk menikmati matahari yang mulai beranjak tinggi.
Menurutnya, kopi sepeda ini buka ketika semangatnya mengayuh sedang berada di puncak-puncaknya.
“Bahkan saya sering chat lebih dulu ke Mbak Aprodita untuk menyisakan satu cup kopi buat saya. Takut kehabisan,” ujar Andri.
Menyediakan hanya 20 cup mulai jualan pukul 06.00 hingga 10.00 WIB memang hanya melayani jumlah pelangga terbatas.
Meski begitu, jenis kopi andalan, yakni Americano atau kopi susu Espresso yang paling diminati pelanggan.
Aprodita tak ingin pelanggan kecewa, juga sering kali merekomendasikan menu lain seperti cold brew dengan detail rasa yang mungkin tak biasa.
Seorang pembeli lain yang baru pertama kali datang Nayya. Menurutnya, rasa asam dari cold brew memang terbilang beda, karena tak banyak kafe Pekalongan yang menyediakan menu tersebut. “Justru rasa asam dan otentiknya itu wajib dicoba,” katanya bersemangat.
“Namun kembali lagi ke pelanggan yang tidak selalu sama seleranya, yang pasti saya akan selalu memberikan yang terbaik,” imbuh Aprodita.
Kopi Sepeda ini membuktikan bahwa ngopi enak tidak selalu harus di dalam kafe ber-AC. Bermodalkan sepeda roda tiga, mesin pendingin, dan waktu jualan yang cuma empat jam setiap pagi, usaha kecil, bisa menjadikan pelanggan bernostalgia atau memiliki kebiasaan baru. (salwa.najaha/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan