METROPEKALONGAN.COM, Pekalonan - Di tengah deretan kuliner modern yang terus bermunculan, Kue Bapel bertahan sebagai salah satu jajanan legendaris Kota Pekalongan.
Dikenal dengan nama Kue Bapel Nya Hwa. Kuliner tradisional ini terletak tepat di perempatan lampu lalu lintas menuju Pasar Grogolan.
Nya Hwa pemilik Kue Bapel menuturkan, ia terbilang generasi kedua dalam pengembangan usaha setelah ibunya.
Yanci, ibu Nya Hwa mulai berjualan Kue Bapel pada tahun 1960. Pada awalnya, Yanci berjualan di kawasan Alun-Alun Kota Pekalongan.
“Waktu saya kecil, saya sering diajak berjualan. Ketika di rumah, saya juga diajari cara membuat Kue Bapel sampai akhhirnya saya yang melanjutkan usaha ibu saya,” ujar Nya Hwa pada Jumat 17 Juli 2026.
Nya Hwa menambahkan, sebelum menetap berjualan di dekat Pasar Grogolan, ia sempat berpindah-pindah tempat.
Pada awal jualan sempat menetap di sekitar Pasar Sriratu, sebelum akhirnya lebih kenal dengan sebutan Bapel Grogolan.
“Penggunaan nama Bapel Nya Hwa ini pesan dari ibu saya, agar orang-orang lebih mengenal bapel dengan namanya,” jelas Nya Hwa.
Menurut Nya Hwa, penjualannya dalam sehari tak pernah pasti. Namun di hari-hari besar Kue Bapel bisa diborong hingga ratusan.
“Bahkan nggak cuma dari Pekalongan, saya pernah menerima pesanan dari Tegal, Semarang, Jogjakarta, sampai keluar dari pulang Jawa,” ujarnya penuh semangat.
Terkait harga, kata Ny Hwa, sebelum krisis moneter tahun 1997, satu buah kue bapel dijual dengan harga sekitar Rp 600.
Harga tersebut kemudian mengalami penyesuaian seiring berjalannya waktu, hingga kini mencapai Rp 10.000 per satuan.
Sekilas, bentuk Kue Bapal menyerupai croffle yang sedang populer saat ini. Namun, kue tradisional ini memiliki karakteristik yang berbeda.
Dengan bahan-bahan alami seperti tepung terigu, gula, santan, telur, air daun pandan, dan daun jeruk.
Yang menjadi ciri khas Kue Bapel ini adalah potongan pisang Sobo yang dicampur ke dalam adonan.
“Kami menggunakan pisang Sobo, karena itu yang paling enak. Kalau ganti jenis pisang, bisa mengubah cita rasanya,” ungkapnya.
Yang lebih menarik lagi adalah proses proses pemanggangan di atas arang. Mengunakan cetakan besi satu persatu, Kue Bapel matang dengan warna kecoklatan.
Nya Hwa mengatakan, ini adalah proses memasak dari zaman ibunya. Dia tak mau mengubahnya sama sekali. “Justru ini ciri khas dari Kue Bapel Nya Hwa,” ujarnya.
Proses tersebut menciptakan rasa yang tak biasa. Salah satu pelanggan bernama Ayu Aisah menjelaskan keunikan rasanya.
“Walaupun basic bahannya dari tepung dan pisang, namun ini berbeda banget dari pisang goreng. Teksturnya kenyal dan lembut. Rasanya manis dan legit. Bahkan dari jauh aroma asap bercampur manis itu membuat perut saya bereaksi,” ujar pembeli yang lebih kerap disapa Ayu.
Ayu juga menjelaskan, dengan ukuran yang besar, makan satu bisa membuat kenyang.
“Kalau bingung makan siang, Kue Bapel cocok untuk mengganjal perut karena bentuknya yang besar dan padat,” katanya sambil tertawa. (salwa.najaha/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan