Slamet Mengisi Waktu Luang di Masa Tua, Buka Jendelo Kopi untuk Olah Raga dan Olah Rasa

Magang • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 23:00 WIB
NGOPI ASYIK : Pemilik Jendolo Kopi, Slamet Sugiono, membuka kedai kopi dengan peralatan serba manual sebagai bagian dari olahraga dan olah rasa kopi yang otentik. (SALWA NAJAHA/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
NGOPI ASYIK : Pemilik Jendelo Kopi, Slamet Sugiono, membuka kedai kopi dengan peralatan serba manual sebagai bagian dari olahraga dan olah rasa kopi yang otentik. (SALWA NAJAHA/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Di sebuah gang kecil daerah Sugihwaras terdapat warung kopi sederhana yang menawarkan pengelaman yang berbeda. 

Slamat Sugiono pemilik warung kopi bertajuk Jendelo Kopi adalah laki-laki berusia 63 tahun. Lewat jendela dari kamar sang anak, Slamet mengubahnya menjadi slow bar.

Dari jauh terlihat sebuah jendela yang dibuka dengan kursi tinggi yang dijajar di depannya. Begitu tiba di depan rumah, pengunjung langsung disambut dengan deretan toples biji kopi Arabika dengan berbagai karakter rasa. Tepat di seberangnya tanaman hias terjajar di tembok menambahkan kesan hangat.

Pemilik Jendolo Kopi Slamet Sugiono menjelaskan, usaha ini berawal dari hobinya meracik kopi.

Slamet hanya bisa menyalurkan hobi meracik kopi setiap kali ada teman-temannya yang datang berkunjung. Lalu sebuah ide datang dengan motivasi mengisi waktu luang.

“Saya berpikir, mau apalagi di usia tua, biar tidak hanya tidur-tiduran saja. Makanya saya membuat warung ini untuk kegiatan saya sekaligus menyalurkan hobi. Setidanya jadi banyak yang mencoba kopi buatan saya, bukan cuma anak-anak dan teman saja,” ujar Slamet Sugiono yang kerap dipanggil Slamet pada Minggu 19 Juli 2026.

Slamet mengakui, kemampuan meracik kopi berawal dari sang putra yang mengajarinya berbagai teknik menyeduh kopi. Kini, dalam menjalankan usahanya, ia turut dibantu oleh putrinya. Terutama ikut melayani pelanggan.

Anak Slamet yang turut membantu Ufairoh menjelaskan, dalam pemilihan menu ia turut andil mencicipi kopi.

“Saya ikut andil dalam trial dan error bapak, sebelum akhirnya dijual dan bisa dicicipi pelanggan. Kebetulan saya juga pecinta kopi,” jelasnya.

Kopi Slamet ini terasa otentik, karena semua alat yang digunakan serba alat manual yang tidak menggunakan tenaga listrik.

Digiling langsung dengan tangan yang hanya bisa menampung satu gelas kopi. Mesin espresso-nya juga alat manual yang menekankan kopi dengan air hangat.

“Saya memilih pakai manual karena setiap gerakan yang saya lakukan itu bagian dari olahraga. Makanya saya sebut ini sebagai slow bar. Jadi pembuatan kopi dengan pelan-pelan, tapi bisa menjadi waktu untuk berbincang dengan pelanggan,” tuturnya.

Dalam sehari, Slamet rata-rata menjual sekitar 20 cangkir kopi mulai dari pukul 07.00 sampai 21.00 WIB.

Jumlah pelanggan bukanlah target baginya. Apalagi semua kopi masih dibuat by order mulai dari penggilingan sampai penyajian. Jadi ia hanya mau menikmati setiap proses meracik kopi dengan hati.

Konsep berjualan melalui jendela juga memberikan pengalaman yang berbeda bagi pelanggan. Tanpa sekat, mereka dapat melihat setiap tahapan pembuatan kopi, mulai dari biji digiling hingga minuman siap disajikan.

Momen tersebut kerap menjadi awal percakapan antara Slamet dengan para pembeli mengenai jenis kopi, teknik penyeduhan, hingga pengalaman menikmati secangkir kopi.

Meski menyediakan fasilitas untuk menikmati kopi di tempat, pengunjung tidak duduk di dalam rumah. Mereka menikmati minuman di area luar rumah dengan suasana kampung yang sederhana dan akrab.

Seorang pengunjung Doro Andika mengaku, Jendelo Kopi tak seperti ngopi pada umumnya. “Ngga cuma nunggu kopi datang kayak di kafe. Tapi kami bener-bener dibuat paham akan proses panjang kopi sambil dijelaskan berbagai hal, mulai dari jenis biji sampai macam-macam menu dan cara buatnya,” ujar Andika senang. (salwa.najaha/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
Jendelo Kopi ngopi otentik kota pekalongan