METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Halaman Kelurahan Noyontaansari dimanfaatkan sebagai lokasi pengumpulan sementara sampah warga sebelum diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan.
Kebijakan tersebut diambil sebagai solusi keterbatasan lahan yang dimiliki kelurahan untuk membangun Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
Koordinator lapangan Kelompok Swadaya Masyarakat Kota Pekalongan Abdul Aziz menjelaskan, Kelurahan Noyontaansari tidak punya lahan untuk membangun TPS 3R.
Lahan yang bisa dibuat sebagai TPS 3R juga harus merupakan lahan milik Pemerintahan Kota. Karena itu, sistem yang dilakukan adalah Collect On Delivery (COD) dengan armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Lebih lanjut, Aziz mengatakan, halaman kelurahan bukan tempat pertama. “Awalnya tempat COD di samping pasar grogolan dari jam 8 sampai jam 9. Namun karena di pinggir jalan ada beberapa masyarakat yang komplen karena memang mengganggu lalu lintas karena menyita jalan yang mereka gunakan,”ujarnya pada Selasa 21 Juli 2026.
Akhirnya setelah melakukan diskusi panjang antara pihak kelurahan dan Kelompok Swadaya Masyarakat KSM hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH), COD dipindahkan ke depan Kelurahan dengan jam yang sama. namun perubahan kembali di lakukan lagi setelah beberapa kali percobaan
Lurah Noyontaansari Eko Hardyan Prasetyo menjelaskan COD di depan ternyata juga menganggu para pengguna jalan dikarenakan ramainya Jalan Hos Cokroaminoto.
Maka dari itu kini COD dilakukan di jam 13.00 hingga 14.00 WIB saat aktivitas sudah berkurang dan anak-anak TK sudah pulang.
“Halaman ini kan tidak hanya halaman kelurahan, karena ada TK ada gedung serbaguna juga jadi jam kita pindah di siang hari ketika kegiatan sudah mulai santai dan sekolah sudah selesai,” ucap Lurah yang lebih kerap di panggil Eko.
Selain karena tak memiliki lahan, lokasi yang berpindah-pindah ini juga karena banyaknya sampah yang terkumpul dari seluruh rumah di Kelurahan Noyontaansari.
Eko mengatakan, sampah hampir bisa di katakan overload karena satu container tak bisa menampung seluruh sampah yang dibawa.
“Mau tidak mau kami membutuhkan tempat yang besar untuk memindahkan sampah yang di gerobak sampah ke konteiner,” jelasnya.
Sementara itu Edi Mudhofar selaku Pengangkut Jasa Sampah (PJS) mengatakan gerobak yang di bawa sekitar 10 hingga 15 gerobak dan satu motor box. Itu merupakan sampah yang dikumpulkan oleh PJS dalam satu hari.
Oleh karena itu saat ini, pengumpulan sampah dibagi menjadi dua titik. Titik pertama berada di eks Kelurahan Noyontaan di Jalan Dr. Wahidin, yang menampung sekitar tujuh gerobak sampah setiap hari. Sampah mulai berdatangan sejak pukul 06.00 WIB dan diangkut sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 WIB.
“Dikarenakan sampah yang terus meningkat itu, kami juga di bantu dari pihak kecamatan dengan menggunakan mobil bak. Karena sangat tidak memungkinkan jika gerobak yang kami bawa tidak bisa di angkut semua,” ujar Edi.
Saat ini dengan jumlah Pengangkut Jasa Sampah (PJS) yang hampir mancapai angkat 27 berharap besar bahwa pemerintah tetap memperhatikan wilayah Noyontaansari.
Daerah ini masih menjadi wilayah darurat sampah dengan keadaan tidak mempunyai lahan dan sampah yang terus meningkat. (salwa.najaha/ida)
Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan