METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Karya tujuh pembatik lokal Kota Pekalongan dipamerkan dalam event pameran di Museum Batik Pekalongan. Ketujuh pembatik tersebut merupakan hasil seleksi panitia dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Museum Batik.
“Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pameran kali ini memberikan ruang lebih luas bagi generasi muda untuk berpartisipasi sebagai peserta melalui proses seleksi terbuka,” kata Kepala Museum Batik Pekalongan Nur Hayati Sinaga.
Menurutnya, seluruh pembatik di Pekalongan diberikan kesempatan untuk mengikuti pameran. Pihak museum terlebih dahulu menyebarkan poster pendaftaran, kemudian para peserta mengirimkan karya terbaiknya sesuai dengan tema dan ketentuan yang telah ditetapkan panitia.
“Kami melakukan seleksi melalui para kurator hingga akhirnya terpilih 7 pembatik yang karyanya bisa dipamerkan,” katanya.
Lebih lanjut, Nur Hayati mengatakan, sebagian dari peserta yang lolos merupakan pembatik muda. Sesuai dengan semangat HUT ke-20 Museum Batik Pekalongan yang mengusung tema ‘Batik Membumi, Generasi Peduli’.
“Kami memang membuka pameran untuk siapa saja yang mau berpartisipasi, tujuannya agar generasi-generasi baru pembatik mau ikut memberdayakan batik di Pekalongan,” imbuhnya.
Tak hanya menghadirkan karya para pembatik, museum juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi dan sekolah di Kota Pekalongan. Di antaranya ITS NU Pekalongan, Universitas Pekalongan (Unikal), serta SMK Negeri 3 Pekalongan. Keterlibatan institusi pendidikan tersebut diharapkan mampu memperkenalkan batik kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian budaya.
Menurut Nur Hayati, peringatan dua dekade Museum Batik Pekalongan menjadi momentum untuk menyadarkan masyarakat dan anak muda. Bahwa tema ‘Batik Membumi, Generasi Peduli’ merupakah bentuk nyata bahwa batik tidak selalu di anggap sebagai pencemaran lingkungan.
“Acara ini memang untuk memperingati ulang tahun museum. Terpenting menyadarkan generasi muda bahwa batik merupakan karya seni yang harus terus kita lestarikan. Jangan hanya fokus pada limbahnya saja, karena limbah batik sebenarnya masih bisa diolah kembali," ujarnya.
Lebih lanjut, pameran batik sebenarnya bukan kali pertama diselenggarakan Museum Batik Pekalongan. Tahun ini menjadi kali pertama museum membuka kesempatan bagi pembatik muda untuk ikut berpartisipasi sebagai peserta pameran.
Salah satu peserta pameran Falahi mengaku bangga dapat menjadi bagian dari peringatan HUT ke-20 Museum Batik Pekalongan.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para pembatik untuk memperkenalkan karya sekaligus menunjukkan bahwa batik terus berkembang di tangan generasi muda.
"Ini adalah event yang luar biasa, dan saya bangga bisa ikut ambil bagian di dalamnya," katanya.
Falahi juga menyampaikan harapannya, semakin banyak masyarakat yang menyadari keindahan batik. Sebagai pembatik yang baru aktif 3 tahun, dirinya menyadari ada banyak karya seni lokal Pekalogan yang patut dibanggakan.
“Kita tetap bisa menjaga lingkungan, walaupun dengan membatik. Sekarang sudah banyak cara mengolah limbah yang baik dan benar,” katanya. (salwa.najaha/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan