PKK Pekalongan Ajak Warga Kelola Jelantah Meski Dana Terbatas

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 09:58 WIB
SOSIALISASI : Ketua TP PKK Kota Pekalongan Inggit Soraya saat sosilisasi KIE Gerakan Sampah Sirkular: Jelantah Jadi Rupiah, di Aula TP-PKK pada Kamis (31/7/2026).(ist)
SOSIALISASI : Ketua TP PKK Kota Pekalongan Inggit Soraya saat sosilisasi KIE Gerakan Sampah Sirkular: Jelantah Jadi Rupiah, di Aula TP-PKK pada Kamis (31/7/2026).(ist)

 

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Keterbatasan anggaran tidak menyurutkan semangat Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan untuk mengajak masyarakat memanfaatkan minyak jelantah menjadi limbah bernilai ekonomi.

Melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Gerakan Sampah Sirkular: Jelantah Jadi Rupiah, PKK terus mendorong warga agar tidak lagi membuang minyak bekas sembarangan, tetapi mengelolanya menjadi sumber manfaat bagi lingkungan maupun perekonomian keluarga.

Ketua Pokja IV TP PKK Kota Pekalongan, Agustina Diah Nastiti, menjelaskan bahwa Gerakan Jelantah Jadi Rupiah merupakan program yang diinisiasi TP PKK Provinsi Jawa Tengah. Program tersebut kembali disosialisasikan sebagai pengingat bagi kader PKK agar terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan minyak jelantah.

Menurutnya, PKK memiliki jaringan hingga tingkat kelurahan dan RT sehingga menjadi ujung tombak dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai ekonomi sirkular berbasis rumah tangga.

Baca Juga: Pemkot Pekalongan Kaji SMA Negeri Baru dan SKO

Baca Juga: Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Baru 19 Persen, Pekerja Konstruksi Pemkot Pekalongan Harus Terlindungi Semua

"Minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah ternyata memiliki nilai ekonomi jika dikumpulkan dan dikelola dengan baik. Harapannya, kader PKK dapat kembali menggerakkan masyarakat sehingga jelantah bisa menjadi tambahan penghasilan keluarga sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan," ujarnya di Aula TP-PKK pada Kamis (31/7/2026).

Ia mengungkapkan, minyak jelantah dari setiap rumah memang umumnya tidak banyak. Namun apabila dikumpulkan secara bersama-sama, hasilnya dapat disalurkan ke Bank Sampah Induk (BSI) untuk kemudian diteruskan kepada perusahaan yang memiliki kemampuan mengolahnya menjadi berbagai produk yang lebih bermanfaat.

Selain pengumpulan minyak jelantah, TP PKK Kota Pekalongan sebenarnya juga pernah menggelar pelatihan mengolah minyak bekas menjadi produk bernilai tambah, seperti sabun dan lilin aromaterapi. Program tersebut sempat mendapat respons positif karena membuka peluang usaha rumahan bagi masyarakat.

Baca Juga: Lagi Enak Makan Bakso, Pasutri Otak Komplotan Begal Modus Kencan MiChat Dibekuk Polisi

Baca Juga: Kapolres Perempuan Pertama di Kota Pekalongan, AKBP Dies Ferra Ningtias Fokus Jaga Kota Tetap Aman dan Dekat dengan Masyarakat

Melalui gerakan ini, Ketua TP PKK Kota Pekalongan Inggit Soraya optimistis kesadaran masyarakat akan terus meningkat. Dengan kolaborasi antara kader PKK, Bank Sampah Induk, dan masyarakat, minyak jelantah diharapkan tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber nilai ekonomi yang mendukung kesejahteraan keluarga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

 

Sayangnya, kegiatan pelatihan belum dapat dilaksanakan kembali akibat keterbatasan anggaran. Kondisi tersebut membuat PKK untuk sementara lebih memfokuskan kegiatan pada edukasi dan kampanye perubahan perilaku masyarakat agar semakin peduli terhadap pengelolaan limbah rumah tangga.

Meski demikian, semangat mengembangkan ekonomi sirkular tetap menjadi prioritas. PKK berharap masyarakat mulai membiasakan diri mengumpulkan minyak jelantah daripada membuangnya ke saluran air yang berpotensi mencemari lingkungan.(han/dit)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
PKK Kota Pekalongan Bank Sampah Induk (BSI) pencemaran lingkungan kota pekalongan minyak jelantah