METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Potensi urban farming di Kota Pekalongan mulai diarahkan bukan sekadar sebagai aktivitas bercocok tanam, tetapi menjadi bagian dari penguatan usaha berbasis lingkungan dan potensi lokal yang memiliki nilai ekonomi.
Peluang tersebut dikembangkan melalui pendampingan Rumah BUMN Telkom Pekalongan bersama Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia.
Kelompok tani tidak hanya didorong meningkatkan produksi, tetapi juga dipersiapkan agar mampu mengolah hasil kebun menjadi produk yang lebih bernilai dan memiliki pasar lebih luas.
Perwakilan Rumah BUMN Telkom Pekalongan, Muhammad Saibani, mengatakan penguatan sektor hilir menjadi salah satu perhatian dalam pendampingan tersebut.
Produk hasil urban farming dinilai perlu mendapat dukungan mulai dari kemasan, pemasaran digital, pengelolaan sumber daya manusia hingga manajemen usaha.
“Dari situ akhirnya hubungannya sudah bagus, mulai dari produksi sampai digital marketing. Kemudian kita berdiskusi, bagaimana kalau kelompok dampingan ini juga dibantu pemasarannya, baik secara online, pengembangan kemasan, pengelolaan manajemen SDM dan lainnya,” ujar Saibani, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: PDAM Tirtayasa Pastikan Layanan Kepada Masyarakat Tetap Normal
Menurutnya, sejumlah kelompok tani yang dikunjungi telah menunjukkan kemampuan mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual.
Menurutnya, sejumlah kelompok tani yang dikunjungi telah menunjukkan kemampuan mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual.
Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan urban farming dari kegiatan produksi menjadi ekosistem usaha.
Saibani bahkan mengaku terkejut ketika melihat langsung produk yang telah dihasilkan kelompok tani dari kebun mereka.
“Saya sebenarnya kaget juga pas pertama ke sini. Mereka sudah langsung membawa produknya, sudah ada bentuk produknya. Wah, ini dari kebunnya langsung,” katanya.
Bagi Rumah BUMN, kondisi tersebut membuka peluang untuk membangun pola pendampingan yang lebih terintegrasi.
Konsepnya tidak berhenti pada bagaimana kelompok tani menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana produk tersebut dikemas, dikenalkan kepada konsumen, dipasarkan dan dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan.
Baca Juga: Pagenteran Pemalang Kekeringan, Polwan Salurkan 13.000 Liter Air Gratis
Pola tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan konsep inti-plasma yang sebelumnya diterapkan dalam pengembangan ekosistem usaha batik.
Pola tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan konsep inti-plasma yang sebelumnya diterapkan dalam pengembangan ekosistem usaha batik.
Model serupa kini dipertimbangkan untuk diterapkan pada sektor urban farming dengan menghubungkan sisi produksi dan pemasaran.
Dari hasil pendampingan di sejumlah kelompok, Rumah BUMN melihat urban farming memiliki potensi kuat untuk dikembangkan sebagai usaha yang mengangkat kekuatan lingkungan sekaligus sumber daya lokal Kota Pekalongan.
Pengembangan itu juga dinilai sejalan dengan arah program Rumah BUMN yang mencakup Go Modern, Go Digital, Go Online, Go Export hingga Go Green.
“Sepertinya menarik untuk kita dampingi terus secara berkelanjutan. Kita melihat ini cocok dengan program kita, terutama Go Green. Berangkat dari konsep inti-plasma yang diterapkan, kenapa tidak kita coba menjadi pilot project,” tutur Saibani.
Pendampingan berkelanjutan menjadi bagian penting agar usaha kelompok tani tidak berhenti ketika kemitraan dengan Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia berakhir.
Rumah BUMN Telkom Pekalongan ke depan memposisikan diri sebagai penghubung sekaligus pendamping bagi kelompok tani dalam memperkuat pengembangan produk dan membuka akses pemasaran.
“Kalau nanti sudah lepas dari kemitraan, Rumah BUMN bisa terus sustain untuk mendampingi. Tugas kita sebagai hub ataupun agensi adalah mengembangkan dan memasarkan produk-produk mereka,” pungkasnya.(han)
Sumber : metropekalongan.com