METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Perebutan Piala Bergilir Wali Kota Pekalongan dalam Festival Lomba Hadroh Al-Banjari dan Rebana 2026 ternyata belum sepenuhnya mampu menarik lebih banyak peserta.
Tahun ini, kompetisi seni musik religi tersebut hanya diikuti sembilan grup, turun dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang mencapai 13 grup.
Festival yang digelar Yayasan Tarbiyatuddunya Wal-Akhirah di Aula Kantor Kecamatan Pekalongan Barat, Selasa (8/9/2026), itu diikuti empat grup kategori pelajar dan lima grup kategori umum.
Penurunan jumlah peserta menjadi catatan tersendiri di tengah upaya menjadikan festival tersebut sebagai wadah pengembangan seni hadroh dan rebana sekaligus mempererat ukhuwah Islamiah di Kota Pekalongan.
Ketua Panitia Festival Lomba Hadroh Al-Banjari dan Rebana, Mudzakiron, mengakui persoalan waktu menjadi salah satu kendala utama. Jadwal pelaksanaan tahun ini bertepatan dengan waktu efektif kegiatan belajar maupun aktivitas pekerjaan.
Baca Juga: Belajar dari Jakarta, KSM Gemilang Bangun Eco Farm Warga
Baca Juga: Polwan Turun Lapangan, 45 Motor Diamankan di Kota Pekalongan
Padahal, menurut nya, minat masyarakat terhadap festival tersebut sebenarnya masih cukup besar. Hal itu terlihat dari sejumlah peserta, termasuk kelompok ibu-ibu, yang tetap berusaha mengikuti perlombaan di tengah kesibukan masing-masing.
“Kalau ditanya, mereka sebenarnya ingin waktunya hari libur, hari Jumat atau hari Minggu. Ini menjadi bahan evaluasi kami agar tahun depan pelaksanaannya bisa lebih baik dan pesertanya kembali meningkat,” kata Mudzakiron.
Persoalan jadwal itu menjadi pekerjaan rumah bagi penyelenggara. Sebab, festival yang tahun ini telah berkembang menjadi kompetisi tingkat Kota Pekalongan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan dengan jumlah peserta yang terbatas.
Penyelenggara bahkan telah menyiapkan Piala Bergilir Wali Kota Pekalongan sebagai simbol keberlanjutan kompetisi. Para pemenang juga mendapatkan dana pembinaan sebagai bentuk penghargaan atas prestasi mereka.
Festival tahun ini sekaligus menandai perubahan skala penyelenggaraan. Jika sebelumnya lomba berlangsung di lingkungan Yayasan Tarbiyatuddunya Wal-Akhirah di Medono, kini lokasinya dipindahkan ke wilayah Kecamatan Pekalongan Barat karena cakupannya telah meningkat menjadi tingkat kota.
Baca Juga: Adzan Terakhir Masjid Berusia 150 tahun di India, Dibongkar demi Ritual Hindu
Baca Juga: Pemkot Pekalongan Gandeng Talenta Lokal Percantik Wajah Kota
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto, yang hadir mewakili Wali Kota Pekalongan, menilai festival tersebut tetap memiliki nilai positif.
Menurutnya, kegiatan itu memberikan ruang kepada pelajar dan masyarakat untuk mengembangkan seni bernuansa keislaman.
Piala Bergilir Wali Kota Pekalongan pun, bukan sekadar hadiah bagi pemenang. Trofi tersebut menjadi bagian dari tantangan penyelenggara untuk membuktikan bahwa festival hadroh dan rebana mampu bertahan, berkembang, sekaligus menarik lebih banyak peserta dari tahun ke tahun.
Namun, dibalik semangat perebutan piala bergilir tersebut, jumlah peserta yang menyusut menunjukkan bahwa penyelenggaraan festival masih menghadapi tantangan untuk memperluas partisipasi.
Karena itu, evaluasi terhadap waktu pelaksanaan menjadi penting. Jika jadwal dapat disesuaikan dengan aktivitas sekolah, pekerjaan, dan kesibukan masyarakat, peluang keterlibatan lebih banyak grup pada tahun berikutnya terbuka lebih lebar.
Slamet berharap festival dapat dikemas semakin besar pada masa mendatang dengan melibatkan lebih banyak kelompok hadroh dan rebana.
“Mudah-mudahan tahun depan kegiatan ini bisa terlaksana lebih meriah lagi,” ujarnya.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com