METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Penuh hikmat, ribuan orang mengikuti Apel Merah Putih dan ikrar NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) digelar di Lapangan Mataram, Kota Pekalongan, Sabtu pagi 19 September 2026. Apel yang digelar kali ini, merupakan rangkaian acara Maulid Akbar Kanzus Sholawat 2026.
Dalam kesempatan tersebut, dihadiri langsung oleh Dr. (H.C.) Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya selaku Khadimul Maulid Kanzus Shalawat Kota Pekalongan. Kemudian, Kapolres Pekalongan Kota AKBP Dies Ferra Ningtias SIK M.Si, Komandan Kodim (Dandim) 0710/Pekalongan Letkol Inf Muhammad Nurul Chabibi, perwakilan Wali Kota Pekalongan, serta jajaran Forkopimda Kota dan Kabupaten Pekalongan, pejabat Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan, pejabat TNI-Polri, Ketua FKUB (lintas agama) beserta jajaran, para kiai dan sesepuh, pimpinan organisasi kemasyarakatan, serta tamu undangan lainnya.
Sedangkan peserta apel diikuti berbagai pasukan dari Kodim 0710/Pekalongan, Kodim 0736/Batang, Polres Pekalongan Kota, TNI Angkatan Laut, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, Grib Jaya Kota Pekalongan, Banser Kota Pekalongan, Satpol P3KP Kota Pekalongan, Dishub Kota Pekalongan, Barisan Pembela Tanah Air (Bapeta) Jatma Aswaja, Annitho Aswaja Kota Pekalongan, IPNU IIPNU, pelajar, pramuka, Basarnas, dan para santri.
Dandim Pekalongan Letkol Nurul Chabibi mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan, kerukunan, dan toleransi di tengah keberagaman.
Ajakan itu disampaikan saat memberikan amanat dalam apel Merah Putih dan ikrar NKRI, rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Kota Pekalongan tahun 2026.
Dalam amanatnya, Letkol Nurul Chabibi mengangkat sosok KH Muhammad Hasyim Asy'ari, ulama yang mencetuskan prinsip hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) dalam perjuangan mengusir penjajah.
Menurutnya, Kiai Hasyim membuktikan bahwa agama dan nasionalisme bisa saling memperkuat dalam membangun bangsa dan negara.
"Dua unsur ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Agama Islam memerlukan tanah air sebagai lahan dakwah dan penyebaran agama, sedangkan tanah air memerlukan siraman nilai-nilai agama agar tidak tandus dan kering," ujarnya.
Ia menambahkan, kenyataan bahwa Indonesia adalah bangsa majemuk menuntut seluruh elemen bangsa untuk menjaga dan merawat persatuan dan kesatuan. Karena itu, prinsip cinta tanah air harus terus diteguhkan.
Meneladani Rasulullah
Terkait peringatan Maulid, Dandim menyebutkan peringatan tersebut sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas terlahirnya manusia paling mulia. Rasa syukur itu, kata dia, hendaknya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi sumber etika dalam berbangsa dan bernegara.
Ia memaparkan sejumlah keteladanan Rasulullah SAW yang dapat diteladani. Dalam hal akidah dan ibadah, Rasulullah menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan akidah, ibadah, dan muamalah bagi umat dengan beragam latar belakang sosial budaya.
Di bidang ekonomi, beliau membangun etos kerja, menegakkan moral pelaku ekonomi, serta menggerakkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai sistem jaminan sosial. Sementara di bidang sosial, Rasulullah membangun persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) dan membudayakan tolong-menolong.
"Keteladanan Nabi Muhammad menjadi contoh bagaimana umat seharusnya bersikap dalam menjaga persatuan bangsa dan mewujudkan negara yang makmur," katanya.
Ajakan Jaga Kondusivitas
Dandim mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kondusivitas, keamanan, dan keharmonisan. Ia menekankan pentingnya toleransi dalam menciptakan suasana damai di tengah keberagaman, agar kondisi tetap aman, tertib, dan damai.
Di akhir amanat, ia mengajak peserta apel sebagai penerus perjuangan bangsa untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila serta menjaga NKRI demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. (ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan