METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Pekalongan bukan sekadar mendapat ilmu dan sertifikat secara gratis. Sebanyak 96 peserta Pelatihan Berbasis Kompetensi Tahap 2 Tahun Anggaran 2026 juga mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaan selama mengikuti pelatihan.
Program yang bersumber dari anggaran pemerintah dan DBHCHT tersebut resmi dibuka Wakil Wali Kota Pekalongan Hj. Balgis Diab di BLK Kota Pekalongan, Senin (28/9/2026).
Perlindungan jaminan sosial menjadi salah satu fasilitas yang diberikan kepada peserta selama dua bulan masa pelatihan. BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pekalongan meng-cover peserta sejak mereka berangkat mengikuti pelatihan hingga kembali ke rumah.
Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Pekalongan Widhi Astri Aprillia Nia mengatakan, seluruh peserta pelatihan mendapatkan perlindungan selama masa kegiatan.
Baca Juga: Kemenimipas Copot 5 Pejabat Lapas Cibinong
“Selama pelatihan ini full kita cover. Tidak cuma waktu pelatihan saja, tetapi berangkat kerja dan pulang kerja juga kita cover,” jelas Widhi.
“Selama pelatihan ini full kita cover. Tidak cuma waktu pelatihan saja, tetapi berangkat kerja dan pulang kerja juga kita cover,” jelas Widhi.
Dengan perlindungan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan bekal keterampilan, tetapi juga jaminan ketika menghadapi risiko kecelakaan kerja selama perjalanan maupun aktivitas pelatihan.
Iuran perlindungan tersebut sebesar Rp15.800 per peserta untuk masa dua bulan dan pembiayaannya ditanggung Pemerintah Kota Pekalongan.
Artinya, selama mengikuti pelatihan, peserta tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan perlindungan jaminan sosial tersebut. Mereka bisa lebih fokus mengikuti proses belajar dan meningkatkan keterampilan sesuai bidang yang dipilih.
Baca Juga: RTLH di Padukuhan Kraton Dicek Langsung, Tepat Sasaran
Wakil Wali Kota Pekalongan Hj. Balgis Diab mengatakan, pelatihan berbasis kompetensi tersebut diharapkan membuka peluang baru bagi masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa peserta tidak dipilih secara sembarangan.
Wakil Wali Kota Pekalongan Hj. Balgis Diab mengatakan, pelatihan berbasis kompetensi tersebut diharapkan membuka peluang baru bagi masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa peserta tidak dipilih secara sembarangan.
Proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari tes tertulis, wawancara hingga tes psikologi. Dari proses tersebut, peserta yang dinyatakan lolos kemudian mengikuti pelatihan sesuai kompetensi yang dipilih.
Menurut Balgis, proses seleksi penting agar program benar-benar diikuti masyarakat yang memiliki keseriusan untuk mengembangkan kemampuan.
Ia berharap peserta tidak berhenti pada kepemilikan sertifikat setelah pelatihan selesai. Lebih dari itu, mereka harus memiliki kompetensi yang bisa digunakan untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha mandiri.
“Yang paling penting mereka memiliki kompetensi dan kemampuan sesuai bidang yang dipilih, sehingga bisa bersaing di dunia usaha maupun dunia pekerjaan,” kata Balgis.
Baca Juga: Layanan PERINTIS Dibuka, Urus Tanah di Kota Pekalongan 10 Hari
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Kota Pekalongan Betty Dahfiani Dahlan menjelaskan, pelatihan tahap kedua ini membuka enam jenis kompetensi.
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Kota Pekalongan Betty Dahfiani Dahlan menjelaskan, pelatihan tahap kedua ini membuka enam jenis kompetensi.
Keenamnya yakni pembuatan roti dan kue, servis mobil injeksi, menjahit pakaian wanita dewasa, pemasangan instalasi kontrol industri berbasis PLC, teknisi telepon seluler perangkat keras, serta service sepeda motor injeksi.
Masing-masing bidang diikuti 16 peserta. Dengan demikian, total peserta yang mengikuti pelatihan mencapai 96 orang.
Jumlah tersebut merupakan hasil penyaringan dari sekitar 250 pendaftar. Mereka harus melewati serangkaian tahapan seleksi sebelum akhirnya ditetapkan sebagai peserta pelatihan.
Betty mengatakan, peserta dipilih berdasarkan hasil seleksi sehingga diharapkan memiliki kesesuaian dengan kompetensi yang akan dipelajari.
Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta diharapkan mampu membawa keterampilan tersebut ke dunia nyata. Sebagian dapat menggunakannya untuk membuka atau mengembangkan usaha, sementara lainnya dapat menjadikannya sebagai modal memasuki dunia kerja.
Salah satu peserta, Maesaroh, 36, warga Kuripan, Kota Pekalongan, memilih mengikuti pelatihan pembuatan roti dan kue. Ia ingin menambah kemampuan sekaligus memperkaya resep yang selama ini sudah dipelajarinya secara mandiri.
“Saya suka bikin kue dan kukis. Di sini ingin menambah ilmu dan resep lagi,” ujar Maesaroh.
Bagi Maesaroh, pelatihan tersebut juga menjadi kesempatan untuk kembali membangun semangat mengembangkan usaha. Keterampilan baru yang diperoleh diharapkan bisa mendukung rencana untuk kembali berjualan dan memperluas pemasaran.(han)
Sumber : metropekalongan.com