Pertempuran 3 Oktober 1945, Saat Warga Pekalongan Lawan Jepang

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 08:59 WIB
TEATERIKAL : Salah satu momen pertunjukkan peringatan Pertempuran 3 Oktober di Monumen Juang Kota Pekalongan, Sabtu (3/10/2026) malam.(IST)
TEATERIKAL : Salah satu momen pertunjukkan peringatan Pertempuran 3 Oktober di Monumen Juang Kota Pekalongan, Sabtu (3/10/2026) malam.(IST)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Malam di Monumen Juang Kota Pekalongan, Sabtu (3/10/2026), menjadi saksi bagaimana sejarah perjuangan rakyat kembali dihidupkan.

Suara teatrikal, adegan pertempuran, hingga momen penurunan bendera Jepang dan pengibaran Merah Putih membawa masyarakat menyusuri kembali peristiwa heroik 3 Oktober 1945, ketika rakyat Pekalongan bersatu merebut kemerdekaan dari kekuasaan Jepang.

Bukan sekadar seremoni tahunan, peringatan Pertempuran 3 Oktober menjadi pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian dan persatuan. Delapan puluh satu tahun setelah peristiwa itu, semangat para pejuang kembali diperkenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda yang tidak mengalami langsung masa perjuangan.

Pemerintah Kota Pekalongan menggelar upacara peringatan di Monumen Juang dengan suasana khidmat. Puncak acara dimeriahkan drama kolosal yang melibatkan puluhan pelajar, komunitas seni Sanggar Omah Budaya, serta aparat TNI dan Polri.

Mereka memerankan kembali suasana perebutan kekuasaan dari tentara Jepang, lengkap dengan efek ledakan teatrikal yang menambah ketegangan adegan.

Baca Juga: PBNC 2026, Panggung Kreatif Anak Muda Pekalongan

Baca Juga: Kota Batik Dunia Terancam Limbah, Ini Langkah Aaf

Melalui pertunjukan tersebut, sejarah tidak hanya disampaikan lewat cerita atau catatan tertulis. Penonton diajak membayangkan keberanian rakyat Pekalongan saat menghadapi situasi berbahaya demi mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.

Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, yang akrab disapa Aaf, menegaskan bahwa peringatan ini harus terus dijaga agar kisah perjuangan para pendahulu tidak hilang ditelan zaman.

Menurutnya, generasi muda perlu mengetahui bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini memiliki sejarah panjang dan pengorbanan besar.

“Ini harus kita peringati terus setiap tanggal 3 Oktober supaya generasi penerus kita tidak lupa dan tahu bagaimana perjuangan pahlawan-pahlawan Kota Pekalongan pada waktu itu,” ujar Aaf.

Ia mengingatkan bahwa perjuangan tersebut tidak dilakukan oleh satu kelompok saja. Tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan rakyat biasa bergerak bersama dengan tujuan yang sama. Persatuan menjadi kekuatan penting ketika masyarakat menghadapi kekuasaan penjajah.

Baca Juga: Jagoan Balap Liar Rambut Merah Menangis, Motor Disita Polisi

Baca Juga: HBN 2026 di Kota Pekalongan, Ada Gunungan Nasi Hingga Senam Bersama

“Yang patut kita teladani adalah bagaimana perjuangan para pahlawan ini. Tanpa dikomando, tanpa dipaksa, dan tanpa dibayar, semuanya bersatu,” tegasnya.

Pesan itu, menurut Aaf, tetap relevan dalam kehidupan sekarang. Tantangan generasi muda memang berbeda dari masa perjuangan fisik, tetapi semangat untuk berbuat bagi kepentingan bersama harus tetap hidup.

Ia mengajak anak muda agar tidak berhenti pada kritik, melainkan mengambil langkah nyata mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, hingga kota dan negara.

“Berbuat dulu untuk diri kita, keluarga kita, kota kita, dan negara kita. Berbuat dulu, baru yang lain,” pungkasnya.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Rajut Persatuan, Rawat Toleransi, Ciptakan Kota Pekalongan yang Kondusif”. Tema tersebut menegaskan bahwa semangat perjuangan tidak hanya diwariskan melalui upacara, tetapi juga melalui sikap saling menghormati dan menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat.

Sebagai bentuk perhatian terhadap keluarga yang mewarisi kisah pengorbanan para pejuang, Pemerintah Kota Pekalongan juga menyerahkan tali asih kepada keluarga korban dan ahli waris pejuang Pertempuran 3 Oktober.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
Sejarah Perjuangan Pertempuran 3 Oktober Persatuan toleransi pekalongan