Mahasiswa hingga Pembatik Berebut Juara Ngerensi Batik

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:57 WIB
MENCANTING : Salah satu peserta lomba Ngerensi Batik Pesisiran, saat focus mencanting pola di halaman Museum Batik, Selasa (6/10/2026).(Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)
MENCANTING : Salah satu peserta lomba Ngerensi Batik Pesisiran, saat focus mencanting pola di halaman Museum Batik, Selasa (6/10/2026).(Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Seratus orang dari beragam latar belakang berkumpul dengan satu kesibukan yang sama, menorehkan kreativitas di atas kain batik.

Dari mahasiswa yang tengah belajar membatik hingga pembatik berpengalaman, semuanya larut dalam Lomba Ngerensi Kategori Umum yang digelar Museum Batik Pekalongan.

Kompetisi dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026 tersebut berlangsung selama dua hari, 5–6 Oktober 2026, di halaman Museum Batik Pekalongan. Tahun ini, peserta ditantang mengembangkan kreativitas melalui tema “Ragam Hias Batik Pesisiran”.

Kurator Museum Batik Kota Pekalongan, Gavi, mengatakan antusiasme peserta tahun ini meningkat cukup signifikan. Jika tahun sebelumnya peserta dibatasi sebanyak 50 orang, kali ini kuota digandakan menjadi 100 peserta.

Menariknya, kuota tersebut langsung terpenuhi hanya sehari setelah pendaftaran dibuka.

Peserta pun datang dengan latar belakang yang beragam dan tidak hanya berasal dari kalangan pembatik.

Baca Juga: Aaf Dorong Warga Dukung Bulan Dana PMI, Target Rp700 Juta

Baca Juga: Mengenal Garang Asem Khas Pekalongan yang Legendaris

“Sebagian besar peserta telah memiliki pengalaman di bidang batik. Namun, terdapat pula peserta dari kalangan mahasiswa yang mulai menekuni dunia perbatikan,” jelas Gavi saat ditemui di lokasi kegiatan, Selasa (6/10/2026).

Pemilihan tema batik pesisiran dinilai memberikan ruang luas bagi peserta untuk berkreasi.

Karakter batik pesisiran yang dikenal dinamis, dengan kekayaan motif flora dan fauna, memungkinkan peserta menuangkan gagasan sesuai karakter masing-masing.

 

Karya peserta selanjutnya dinilai berdasarkan kesesuaian dengan tema yang telah ditentukan. Tiga pembatik senior, yakni Sutoyo, Miftakhutin dan Hanafi, dipercaya menjadi dewan juri dalam kompetisi tersebut.

Selain menjadi ajang adu kreativitas, lomba ini juga menawarkan hadiah bagi para pemenang. Juara pertama mendapatkan Rp2 juta, juara kedua Rp1,75 juta, juara ketiga Rp1,5 juta, sedangkan kategori harapan memperoleh hadiah mulai Rp250 ribu hingga Rp750 ribu.

Baca Juga: Polres Pemalang Tepis Narasi Liar Kasus Pelajar SD

Baca Juga: Taklukkan Pantura dan Alas Roban, Teguh Kejar Mimpi Bertemu Jokowi

Namun, bagi Museum Batik Pekalongan, nilai penting lomba tidak hanya terletak pada hadiah. Kompetisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar keterampilan membatik terus diwariskan dan mendapat tempat di tengah perubahan zaman.

“Harapannya batik tetap lestari. Ini juga menjadi wadah untuk mengapresiasi para pembatik, karena salah satu tugas museum adalah mengedukasi sekaligus menjadi ruang apresiasi,” sambung Gavi.

Di antara para peserta, hadir Anggun Udana Fitri Ayuji, mahasiswa Universitas Pekalongan (Unikal) berusia 19 tahun. Bagi Anggun, lomba tersebut bukan sekadar mengejar kemenangan, tetapi kesempatan untuk memperkaya pengalaman sekaligus bertemu pembatik dari berbagai generasi.

Mahasiswi yang telah beberapa kali mengikuti lomba membatik itu mengaku tidak terlalu kesulitan mengerjakan tema batik pesisiran.

Justru, karakter motif pesisiran memberinya ruang untuk mengeksplorasi kreativitas.

“Seru, karena kita seperti melanjutkan budaya kita dari dulu. Ini juga menjadi tantangan karena bisa melihat pengalaman dan karya peserta lain yang lebih bagus,” tuturnya.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
Hari Batik Nasional Lomba Ngerensi Batik Pesisiran Pembatik Muda museum batik pekalongan