BATANG, Metro Pekalongan.Com- Jajanan tradisional khas Desa Kalibeluk Kecamatan Warungasem yang satu ini sudah melegenda dan di sukai banyak orang.
Terutama warga Batang dan Pekalongan. Bukan cuma karena rasa legit dan lezatnya saja. Ada cerita unik di balik makanan yang sudah ada sejak zaman Mataram tersebut.
Keaslian resep serabi kalibeluk masih dijaga secara turun-temurun. Saat ini hanya ada 11 pengerajin serabi yang berukuran setengah batok kelapa tersebut.
Mereka masih bersaudara dan tinggal di Desa Kalibeluk. Ukuran serabi itu cukup besar, berbeda dengan serabi yang dijual pada umumnya. Satu serabi kalibeluk sudah cukup membuat perut kenyang.
Warnanya juga cukup menggairahkan bagi orang yang melihatnya. Warna coklat gula aren yang berasa manis dan warna putih yang berasa gurih.
Wangi dari santan dan gula aren pun tercium khas di jajanan yang banyak dijual di Pasar Warungasem itu.
"Yang buat Serabi Kalibeluk ini hanya 11 orang, masih saudara semua. Tempat lain mungkin ada yang buat tapi rasanya beda," kata Tauhid, 57, salah satu pengrajin serabi kalibeluk dari Dukuh Potrosari, Desa Kalibeluk.
Cara memakannya tanpa menggunakan kuah seperti serabi pada umumnya. Satu tangkupnya dihargai Rp 12 ribu, berisi dua serabi.
Biasanya serabi ini dimakan sebagai kudapan pada pagi hari, karena satu serabi sudah dapat mengenyangkan perut.
Proses pembuatan serabi ini masih menggunakan cara tradisional. Beras ditumbuk hingga menjadi tepung yang halus. Kemudian dicampur parutan kelapa dan air untuk membuat adonan yang kental.
Piranti memasaknya juga masih menggunakan tungku kayu. Satu tungku terdapat empat lubang untuk memasak. Serabi dicetak menggunakan cowek dari tanah liat.
"Bedanya dengan serabi biasa, serabi kalibeluk ini dari beras dan parutan kelapa. Proses memasaknya masih dengan cara tradisional. Itu yang menjaga keasliannya," ucapnya.
Tauhid biasanya mulai membuat serabi sejak pukul 4.00 pagi hingga pukul 10.00 WIB. Proses tersebut memerlukan waktu yang cukup lama. Sehari ia bisa membuat 20 sampai 30 tangkep serabi kalibeluk. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla