METROPEKALONGAN.COM – Jika berkunjung ke wilayah karesidenan Pekalongan (Batang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Pemalang), sangat mudah menemukan warung yang menjual nasi Megono.
Nasi putih dengan toping Megono.
Megono sebenarnya sayuran, dibuat nangka muda, parutan kelapa dengan paduan bumbu-bumbu rempah lainnya. Cara memasaknya hanya dikukus.
Megono digunakan untuk melengkapi nasi putih. Tapi lebih sedap tetap memakai lauk yang sesuai selera.
Namun kebanyakan warung penjual nasi Megono, selalu menyediakan aneka jenis gorengan, terutama tempe tepung. Bisa ditambah sambal agar lebih sedap.
Sebungkus nasi Megono, harganya murah meriah. Rata-rata dipatok harga antara Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu per bungkus. Tinggal pilih jenis lauknya yang disuka.
Kalau sering makan di angkringan, Sego Megono mirip nasi kucing yang sering disajikan.
Namun, di banyak warung lain, bumbu Megono ada yang dipisah. Sehingga jadi pelengkap lauk makan.
Dari berbagai literasi, istilah Megono berawal dari kata bahasa Jawa. Merga (karena) dan ana (ada). Jadinya Merga Ana.
Lama-lama diucapkan megono saja.
Menu ini, konon untuk sajian Pasukan Mataram pimpinan Bahureksa yang hendak berperang melawan VOC di Batavia pada tahun 1628.
Ki Bahurekso sendiri merupakan pendiri Kabupaten Batang.
Di era yang sama muncul kuliner Serabi Kalibeluk Warungasem Batang, yang masih dilestarikan sampai sekarang.
Saat melintas Kota Pekalongan, mereka kelelahan dan kelaparan. Namun saat itu, warga di sekitar kekurangan makanan.
Karena ingin membantu pasukan Mataram, warga bahu membahu mengumpulkan makanan.
Kala itu hanya terkumpul beras dan nangka muda.
Akhirnya mereka olah, dengan dicacah-cacah atau dipotong-potong kecil, dengan pisau besar. Teknik memotong nangka muda untuk Megono.
Teknik ini masih digunakan sampai sekarang.
Pecahan nangka muda tersebut, kemudian dicampur aneka bumbu rempah. Dibungkus daun pisang dan dikukus, sampai matang. Selanjutnya siap disajikan.
Untuk menikmati kuliner Megono, bisa ditemukan kapanpun selama 24 jam.
Di Kota Pekalongan dan sekitarnya saat ini, banyak warung makan yang buka malam hingga pagi hari. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla