METROPEKALONGAN.COM-Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan sempat saling klaim asal usul kuliner khas megono.
Klaim tersebut sempat memanas saat ada gelaran live acara televisi nasional untuk memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang di Alun-Alun Batang pada Sabtu pagi (9/4/2016) silam.
Selain konser musik tersebut, dimeriahkan pula dengan promosi wisata dan kuliner khas Batang. Kalau itu, Batang dipimpin Bupati Yoyok Riyo Sudibyo.
Dalam acara tersebut dimanfaatkan Pemkab Batang untuk melakukan promosi Nasi Megono Khas Batang di atas panggung acara televisi nasional.
Imbasnya, klaim Megono sebagai makanan khas Batang menimbulkan pro dan kontra netizen.
Netizen Facebook dan Twitter di daerah Batang dan Pekalongan saling perang statemen. Bahkan banyak akun nyinyir yang mengutuk dan mencaci-maki aksi promosi Megono yang diklaim Batang.
Netizen merasa Megono itu makanan khas Pekalongan dan bukan khas Batang. Tetapi tidak sedikit yang mendukung dan turut bangga dengan Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo, sehingga Megono semakin terkenal secara nasional.
Seperti apa sejarah Megono sebenarnya? Metropekalongan.com menghubungi pegiat sejarah Pekalongan Heritage Community Muhammad Dirhamsyah.
“Sebenarnya belum pernah ditemukan bukti otentik terkait Megono. Namun ada dua hipotesis yang selama ini sudah beredar,” ucap Dirham.
Hipotesis pertama berasal dari Serat Centini tentang kuliner kuno Nusantara. Di dalamnya menyebutkan, Megono memang berasal dari peradaban Jawa Kuno.
Megono awalnya memang dijadikan lauk dari sebuah gunungan nasi atau tumpeng, untuk sesajen sejak era Mataram Kuno.
Hal ini dikarenakan wilayah-wilayah yang diyakini sebagai awal mula Megono yaitu Batang dan Pekalongan memang pernah menjadi wilayah dari Kerajaan Mataram Kuno. Namun karena Serat Centhini adalah karya sastra, jadi hal ini masih berupa hipotesis.
Hipotesis kedua menyebutkan, jika megono bermula ketika Ekspedisi Mataram untuk menghadapi VOC di Batavia. Hal ini sudah pernah ditulis di tulisan Megono (part 1).
Dengan banyaknya alasan tersebut, Dirham menganggap cukup wajar kalau Megono memang berada di beberapa wilayah di Jawa.
Jika mengacu Batang dan Pekalongan, dalam sejarahnya wilayah ini sebenarnya satu daerah. Namun dipecah dalam bentuk pemerintahan usai Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
“Bahkan di tengah masyarakat, Megono selain banyak dijual di Pekalongan, memang ada di Batang dan Magelang. Bahkan, mungkin di beberapa wilayah lain dengan cita rasa kekhasan masing-masing,” terangnya.
Untuk membuktikannya, penulis mencoba langsung rasa dua jenis Megono khas wilayah Batang dan Pekalongan. Setelah dirasakan, memang ada perbedaan, rasa megono di kedua wilayah ini.
Megono khas Batang, bumbunya kuat di rempah dan kelapa. Namun untuk Megono khas Pekalongan, ada tambahan Kecombrang yang beraroma lebih segar.
Menurut penulis, memang ada perbedaaan rasa yang cukup kuat antara Megono Batang dan Pekalongan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla