Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Bertahan di Tengah Badai, Kisah RM Kali Kuto yang Tak Kunjung Padam

Lutfi Hanafi • Sabtu, 29 Maret 2025 | 00:47 WIB
RAMAI - Penampakan RM Kalikuto di Gringsing Kabupaten Batang yang bertahan walaupun ada tol.
RAMAI - Penampakan RM Kalikuto di Gringsing Kabupaten Batang yang bertahan walaupun ada tol.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Di tengah derasnya arus perubahan, satu hal yang tetap berdiri tegak di Jalur Pantura adalah rumah makan Kali Kuto.

Ketika jalan tol hadir pada 2018 dan menyingkirkan arus lalu lintas bus malam dari jalur Pantura, banyak warung makan berguguran.

Belum sempat pulih, badai pandemi Covid-19 kembali menghantam. Namun, tak seperti banyak rumah makan lain yang menyerah, RM Kali Kuto justru semakin bersinar.

Muji, pemilik rumah makan ini, tak ingin pasrah. Pria asal Blora itu sejak awal menyadari bahwa mempertahankan usaha butuh lebih dari sekadar mengandalkan lalu lintas kendaraan.

“Kami tidak bisa hanya menunggu pelanggan datang. Kami harus berinovasi,” ujar Muji.

Awalnya, RM Kali Kuto mengandalkan menu khas kepala manyung. Namun, saat jumlah pelanggan menurun drastis, Muji melakukan terobosan.

Ia menambahkan berbagai hidangan khas Nusantara seperti bakso, soto, ayam opor, seafood, hingga iga sapi yang kini menjadi favorit.

Tidak hanya itu, ia juga memperluas area makan, menambah fasilitas musala, kamar mandi bersih, hingga area karaoke gratis untuk pengunjung.

Upaya ini membuahkan hasil. Meskipun arus bus malam tak lagi seramai dulu, kehadiran armada travel serta bus wisata yang singgah membuat RM Kali Kuto tetap hidup. Gerbang Tol KITB yang baru dibuka juga memudahkan akses bagi wisatawan.

Di balik kesuksesan ini, ada doa dan peran besar seorang ibu. Yanti, ibunda Muji, yang dulu mendirikan RM Kali Kuto, sempat hampir menyerah.

Namun, ia meminta Muji untuk melanjutkan usaha ini. Awalnya ragu, Muji yang saat itu sudah memiliki bisnis mapan di Semarang akhirnya menerima tanggung jawab tersebut demi baktinya kepada sang ibu.

Kini, RM Kali Kuto bukan sekadar tempat makan. Dengan keramahan pelayanan, harga yang terjangkau, dan kepedulian sosial—seperti berbagi takjil gratis di bulan Ramadan serta bantuan bagi korban bencana—Muji dan RM Kali Kuto telah menjadi bagian dari perjalanan banyak orang.

 

“Saya selalu singgah di sini kalau lewat,” ujar Eli, seorang pengunjung dari Cirebon. “Makanannya enak, murah, dan tempatnya nyaman.”

Muji menatap masa depan dengan penuh optimisme. Dalam usahanya, ia telah membuktikan bahwa inovasi, keuletan, serta ketulusan hati adalah kunci bertahan di tengah segala badai. (han/ida)

 

Editor : Ida Nor Layla
#Gringsing #inovasi #kuliner #rumah makan #tol #pantura #Pandemi Covid