METROPEKALONGAN.COM, Batang – Sepintas, Warung Sate Raja Murah di Jalan Raya Lama Desa Gringsing tampak biasa saja.
Bangunannya sederhana, nyaris tak menyita perhatian pengguna jalan.
Namun siapa sangka, warung ini telah menjadi persinggahan favorit para pejabat—mulai dari camat hingga bupati—yang kepincut kelezatan sate kambingnya yang empuk dan bumbunya yang khas.
Di balik asap sate yang mengepul saban hari, ada kisah panjang penuh peluh dari Mahfud, 55, sang pemilik warung.
Mahfud bukan hanya penjual sate biasa.
Ia adalah saksi hidup kegigihan dan ketekunan, yang dimulai dari zaman ia masih kecil, ikut ayahnya berjualan sate keliling dengan pikulan.
“Bapak dulu jualan sate keliling desa-desa naik pikulan. Saya ikut dari kecil, dari belajar motong daging sampai membakar,” kenang Mahfud, pria kelahiran Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing.
Mahfud muda kemudian mandiri. Ia tak lagi memikul, tapi mendorong gerobak.
Setiap malam usai Magrib, ia mulai berkeliling. Penerang jalannya hanyalah lampu kaleng berisi minyak tanah, dengan sumbu dari kain bekas.
Suara ketukan kayu di gerobaknya jadi penanda, tukang sate datang!
Meski lelah, hasilnya sepadan. Satenya laku keras karena cita rasa lezat dan harga bersahabat.
Namun hujan dan malam dingin membuat Mahfud berpikir, sudah waktunya berhenti keliling.
Tahun 1989 menjadi titik balik. Ia membuka warung kecil di tepi jalan Gringsing. Dari satu ekor kambing sehari, kini Mahfud menyembelih hingga empat ekor bila ramai.
Kambing-kambing muda berkualitas didatangkan dari Limpung, Sukorejo, hingga Temanggung.
“Daging kami empuk karena dari kambing muda. Bumbunya khas karena kami pakai kecap tertentu. Itu rahasia rasa,” ujar Mahfud sembari tersenyum.
Tak hanya sate, gule kambing dan wedang tape juga jadi andalan.
Wedang tape ini unik, dibuat dari tape ketan yang dicampur air gula panas—pas diminum saat malam atau hujan mengguyur jalanan Gringsing.
Warung Raja Murah tak pernah sepi. Salah satunya Yuli, warga Semarang yang mengaku selalu mampir saat melintas.
“Anak-anak saya pasti minta berhenti kalau lewat sini. Satenya beda,” katanya.
Bahkan seorang perangkat desa yang enggan disebut namanya menyebut, warung ini jadi lokasi wajib usai rapat di kecamatan.
“Harganya terjangkau, tempatnya nyaman, dan ada mushala juga,” ujarnya.
Kini Mahfud bukan hanya menikmati hasil kerja kerasnya, tapi juga memberi lapangan kerja bagi warga sekitar.
Ayah tiga anak ini telah membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi bisa membawa perubahan besar.
Dari pikulan ke piring, dari jalanan ke warung—kisah Mahfud adalah bukti bahwa rasa dan ketekunan tak pernah bohong. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla