METROPEKALONGAN.COM, Kajen – Di sudut Dusun Bantul, Desa Kesesi, Kabupaten Pekalongan, aroma manis dan lembut dari dapur kayu milik Mak Menis, 75, setiap harinya menyeruak sejak Subuh.
Di sanalah sebuah warisan turun-temurun dijaga dengan penuh cinta dan kesetiaan. Ya, Apem Kesesi.
Kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan gula kelapa ini, tak hanya menggugah selera, tapi juga menyimpan cerita panjang tentang identitas, rasa, dan budaya.
Mak Menis adalah generasi ketiga yang melanjutkan tradisi ini. Kini, tangannya yang mulai menua telah menuntun sang anak – generasi keempat – untuk menjaga api semangat leluhur agar tak padam ditelan zaman.
“Saya dapat dari ibu, dan ibu dapat dari nenek saya. Tapi saya pun tak tahu persis sejak kapan apem ini ada. Yang jelas, apem ini dari dulu sudah jadi ciri khas sini, Kesesi,” ujar Mak Menis dengan mata berbinar.
Meski banyak orang mengenalnya dengan sebutan Apem Comal, Mak Menis dengan santai meluruskan.
“Yang jualan di Comal itu banyak, karena pasarnya besar, dekat Jalur Pantura. Jadi gampang dikenal orang. Tapi yang bikin, ya dari sini, dari Dusun Bantul, Kesesi,” jelasnya.
Bahkan banyak langganannya yang berdagang di Pasar Comal. Karena itulah masyarakat luar mulai menyebutnya dengan nama yang keliru.
Padahal, menurut cerita yang beredar di kalangan warga, hanya air dari tanah Dusun Bantul-lah yang bisa menghasilkan tekstur dan rasa apem yang khas dan sempurna.
“Ada yang coba buat di luar Kesesi, tapi katanya rasanya beda. Enggak seenak yang asli sini,” tambahnya.
Setiap hari, Mak Menis dan anaknya mengolah hingga 10 liter tepung beras menjadi apem. Semua proses dilakukan secara tradisional dan penuh ketelatenan.
Beras direndam selama dua malam, dijemur, digiling, lalu diangin-anginkan mulai jam 2 dini hari hingga jam 3. Kemudian, dicampur dengan gula merah cair, disaring, dan diaduk hingga mengembang.
Adonan kemudian dituangkan di atas potongan daun pisang berbentuk bulat, lalu dikukus selama 30 menit menggunakan dandang (kukusan) kotak khusus.
Kukusan ini ia peroleh dari bantuan, menggantikan kukusan lama yang dahulu hanya mampu memuat 30 apem dalam sekali masak. Kini, satu kukusan bisa menampung hingga 100 apem.
“Kalau dulu dari pagi sampai sore baru jadi 6 liter. Sekarang 10 liter bisa selesai jam 10 pagi. Tapi tetap pakai tungku kayu ya, bukan kompor gas. Soalnya kalau pakai gas, airnya bisa enggak stabil. Kalau pakai tungku, apinya rata dan pas,” ungkap Mak Menis sambil tersenyum.
Menariknya, meskipun permintaan datang dari berbagai daerah, Mak Menis tetap setia pada ritme produksinya. Ia tak tergoda menambah jumlah produksi demi keuntungan.
“Saya buat sesuai kemampuan aja. Enggak usah dipaksain. Lagian, banyak yang datang sendiri ke rumah saya, jadi saya enggak perlu jualan ke luar,” katanya merendah.
Proses pembuatan apem juga melibatkan kerja sama keluarga. Ada yang khusus mencetak, memotong daun pisang, mencuci beras, menjemur, menggiling, hingga mengeluarkan apem dari kukusan.
Kolaborasi domestik yang sederhana, namun mencerminkan nilai gotong royong yang kuat.
Apem Kesesi kini telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda milik Kabupaten Pekalongan.
Sebuah pengakuan yang tak hanya mengafirmasi kelezatannya, tetapi juga menghargai nilai historis, sosial, dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Dengan harga seribu rupiah per biji, apem buatan Mak Menis tak hanya murah meriah, tetapi juga menyimpan filosofi hidup: bahwa sesuatu yang dibuat dengan cinta dan ketulusan, tak lekang oleh waktu. Namun begitu, apem ini tak bisa disimpan lama. Daya tahannya hanya sekitar satu hari.
“Kalau lebih dari itu, apemnya keras. Enggak enak lagi,” katanya.
Apem Kesesi bukan sekadar camilan pasar atau oleh-oleh dari desa. Ia adalah pengikat sejarah, jembatan antara masa lalu dan masa kini, serta cermin keteguhan seorang perempuan dalam menjaga warisan kuliner yang nyaris dilupakan.
Di tangan Mak Menis dan anak-anaknya, apem ini tak hanya bertahan, tapi hidup – dari tungku dapur hingga meja-meja masyarakat, dari tradisi lisan hingga pengakuan budaya resmi.
Sebuah bukti bahwa warisan, jika dirawat dengan hati, akan selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan dan dicintai. (rifkahsaffanah/ida)
Editor : Ida Nor Layla