METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Hobi yang menghasilkan. Itulah yang dirasakan Cici, warga Kesesi yang bersuamikan warga Karangdadap.
Berawal dari hobi memasak sang suami, Cici bersama suaminya mendirikan Kedai Si Blangkon pada 16 Juni 2022 di Kutosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan.
Sengaja memilih nama "Si Blangkon", terinspirasi dari anaknya yang gemar memakai blangkon, sekaligus sebagai simbol sentuhan budaya Jawa yang tercermin dalam menu andalannya yaitu Mi Cobek Bakar.
Mi Cobek Bakar di kedai Si Blangkon ini tak hanya lezat, tapi juga mengusung nilai budaya Jawa.
Menu tersebut disajikan di atas cobek. Yakni sejenis mangkuk dari batu yang biasa digunakan sebagai alas menumbuk atau mengulek bumbu.
Uniknya, cobek ini ditempelkan dengan talenan kayu di bagian bawah agar tidak panas saat dibakar.
Penyajian cita rasa mie ini, memberikan sensasi penyajian yang berbeda dengan hotplate pada umumnya.
Dengan cita rasa gurih manis, bakaran yang pas, dan isian seperti balungan ayam, pangsit, sosis, ceker, hingga telur, Mi Cobek Bakar ini sukses mencuri hati pelanggan.
Salah satunya Innayah, yang mengaku ketagihan setelah pertama kali mencoba. “Rasanya enak, bakarannya pas, nggak gosong,” katanya.
Cici sendiri mengakui, awalnya sempat ingin menyajikan menu di hotplate. Namun karena harga peralatannya mahal, ia dan suami berinovasi menggunakan cobek. Justru itulah yang menjadi keunikan utama kedai ini.
Semua resep merupakan racikan asli dari tangan dingin suami Cici, menjadikan rasa dan penyajian Mi Cobek Bakar di Kedai Si Blangkon berbeda dari yang lain.
Kedai kecil ini buka setiap hari pukul 10.00 hingga 19.00 WIB. Meski begitu, pelanggan kerap memilih menikmati Mi Cobek Bakar pada sore hari. Sedangkan di akhir pekan, kedai ini bisa menjual hingga 200 porsi sehari.
Meski sempat menghadapi tantangan penurunan penjualan, semangat Cici dan suami tetap tinggi. Bahkan, mereka tengah merencanakan pembukaan cabang baru di Kajen.
“Semoga semakin ramai dan Mi Cobek Bakar bisa dikenal lebih luas,” harap Cici. (syafikasaffanah/ida)
Editor : Ida Nor Layla