Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Deklarasikan Jatma Aswaja di Kanzus Sholawat Kota Pekalongan, Naungi Pengamal Thariqah Muktabarah Indonesia

Ida Nor Layla • Senin, 21 April 2025 | 05:22 WIB
KUKUHKAN JATMA ASWAJA : Pengukuhan Jatma Aswaja di dalam Pengajian Rutinan Kliwonan di Kanzus Sholawat, Noyontaan, Kota Pekalongan, Jumat 18 April 2025.
KUKUHKAN JATMA ASWAJA : Pengukuhan Jatma Aswaja di dalam Pengajian Rutinan Kliwonan di Kanzus Sholawat, Noyontaan, Kota Pekalongan, Jumat 18 April 2025.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Pengamal thariqah muktabarah berbasis ahlu sunnah wal jamaah di Indonesia kini memiliki rumah besar sebagai wadah baru yang menaunginya.

Wadah ini bernama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh Ahlussunnah Wal-Jamaah (Jatma Aswaja).

Organisasi ini didirikan pada 17 Ramadan 1446 Hijriyah/17 Maret 2025.

Guru dan tokoh bangsa Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya sebagai Ketua Umum dan Rois Aam dan DR Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini sebagai Sekretaris Jenderal.

Pendirian Jatma Aswaja ini juga sebagai penanda zaman, kata Helmy, bahwa spiritualitas Islam masih memiliki tempat di tengah dunia yang serba cepat dan dangkal.

"Pendirian Jatma Aswaja bukan sekadar pembentukan struktur organisasi. Jatma Aswaja adalah suara para pecinta Tuhan, yang berjalan dalam diam tapi mengubah banyak hal," kata Helmy saat pelantikan pengurus Jatma Aswaja di dalam Pengajian Rutinan Kliwonan di Kanzus Sholawat, Noyontaan, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Karena itulah, harapnya, melalui Jatma Aswaja akan lahir generasi baru pengamal thariqah—yang tidak hanya fasih dalam wirid dan dzikir, tapi juga bijak dalam memimpin umat, adil dalam bermuamalah, dan kokoh dalam menjaga bangsa dari polarisasi dan perpecahan.

“Thariqah adalah spiritualitas yang melahirkan kedermawanan (Generosity)," tandasnya.

Menurutnya, dunia sedang dalam tantangan berbagai hal dalam konteks geopolitik, ekonomi dan peradaban, juga ancaman konfik antarnegara dan perpecahan bangsa.

Indonesia—sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia—memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga kesinambungan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Yakni, Islam yang tidak sekadar menampilkan wajah legalistik-formal, tetapi juga yang menyentuh sisi terdalam manusia : jiwa, kasih sayang, akhlak, dan keteduhan batin.

“Dalam konteks inilah, thariqah menempati posisi sentral—ia adalah jalan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan pendakian ruhani yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan diwariskan secara bersanad oleh para mursyid yang terpercaya," katanya.

Ditegaskan, spirit thariqah adalah alan yang membentuk jiwa. Sebagaiman dalam hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan al-Bayhaqi)

Hadis ini menjadi jiwa dari gerakan thariqah. Yakni, menyempurnakan akhlak melalui jalan mujahadah (perjuangan batin), riadah (latihan jiwa), dan muroqobah (kesadaran ilahiyah).

Dalam dunia yang hiruk-pikuk oleh polarisasi politik, komodifikasi agama, dan kehilangan makna hidup, thariqah menawarkan alternatif yang radikal dalam kelembutannya. Kembali kepada Tuhan dengan cinta, dzikir, dan penghambaan yang total.

Jatma Aswaja meyakini bahwa spiritualitas bukanlah kemewahan eksklusif para elite ruhani, melainkan kebutuhan pokok masyarakat modern yang terjebak dalam kelelahan eksistensial.

“Oleh karena itu, misi organisasi ini bukan sekadar menjaga tradisi, tapi juga memasyarakatkan transendentalisme dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.

Helmy menjelaskan, Jatma Aswaja dibangun dengan Dua Pilar Gerakan: Transendensi dan Pemberdayaan.

 

1. Membangun Transendentalisme

Menjadikan thariqah sebagai jalan penguatan hubungan antara hamba dan Allah.

Dalam dunia yang penuh distraksi, manusia membutuhkan ruang sunyi—dan thariqah menyediakan ruang itu secara sistematis.

Dzikir, suluk, dan adab kepada mursyid bukanlah praktik yang asing dari kehidupan sosial, tetapi justru menjadi fondasi kesalehan publik.

Jatma Aswaja mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali pada tradisi dzikir berjamaah, pengajian thariqah, dan penguatan sanad keilmuan serta ruhaniyah.

2. Pemberdayaan Ekonomi Ummatan

Spirit thariqah tidak anti-dunia. Sebaliknya, ia mendorong umat untuk memakmurkan bumi. Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah (kebahagiaan) negeri akhirat dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu, dan janganlah lupakan bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Maka, Jatma Aswaja berkomitmen menjalankan dakwah integral. Yakni menyucikan jiwa dan memandirikan ekonomi.

“Melalui jaringan koperasi, pemberdayaan UMKM, hingga gerakan filantropi berbasis pesantren dan zawiyah, Jatma Aswaja ingin memastikan bahwa para pengamal thariqah tidak hanya kuat secara ruhani, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan sosial," katanya.

Selain itu, dengan Islam Wasathiyah, Jatma Aswaja menjaga keseimbangan, merawat keberagaman.

Jatma Aswaja berdiri di atas nilai-nilai Islam Wasathiyah—konsep Islam pertengahan yang menolak ekstremisme dan keberagamaan yang kaku.

Prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi nilai yang tak terpisahkan dari praktik thariqah sejak dulu. Sebagaimana firman Allah SWT

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath (moderat).” (QS. Al-Baqarah: 143).

Selama ini, jelasnya lagi, para mursyid thariqah telah mengajarkan bahwa beragama jangan sampai kehilangan kontak dengan realitas.

Karena esensi beragama adalah mengajarkan tentang generosity, yakni sikap kedermawanan, yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin.

Ini menjadi penting untuk konteks global dan domestik sekarang ini, yang relevan dengan kondisi bangsa.

Para mursyid thariqah, sejak zaman Walisongo hingga hari ini, telah menjadi penjaga keindahan Islam melalui pendekatan yang lembut, santun, dan merangkul.

"Jatma Aswaja berkomitmen untuk meneruskan warisan itu. Yakni menjaga harmoni antarumat, merawat keberagaman dalam bingkai ukhuwah insaniyah, dan meneguhkan kembali akhlakul karimah sebagai ruh peradaban," katanya. (ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Habib Lutfhi Bin Yahya #kota pekalongan #Thariqah #thariqah muktabarah #Jatma Aswaja #Kanzus Sholawat pekalongan