METROPEKALONGAN.COM, Pemalang — Menjadi petugas keimigrasian tak hanya soal memeriksa paspor di meja kedatangan atau keberangkatan.
Di balik meja itu, ada cerita tentang identitas, kedaulatan negara, dan pengalaman yang kadang melampaui batas peta.
Itulah yang dirasakan oleh Roni Handoko, Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Kasi Inteldakim) di Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Pemalang.
Di sinilah ia merasakan langsung denyut nadi perlintasan manusia lintas negara.
“Setiap hari ketemu orang dari berbagai negara. Bahasa utama tentu Inggris, tapi kalau ketemu yang tak bisa, saya pakai bahasa isyarat,” katanya.
Di bandara, Roni tak hanya mengurus warga negara asing (WNA). Ia juga berkutat dengan pencegahan WNI keluar negeri, terutama yang terlibat kasus hukum seperti dari kepolisian, kejaksaan, hingga KPK.
“Biasanya data mereka muncul di sistem, tinggal kami tindak,” jelasnya.
Usai dari Soetta, ia pindah ke Bandara Ngurah Rai, Bali. Saat itu ia baru saja menikah tiga bulan.
“Langsung tugas ke Bali, jadi sekalian bulan madu tapi versi petugas Imigrasi,” selorohnya.
Namun, pengalaman paling berkesan justru hadir saat Roni ditugaskan di Merauke pada 2017.
Ia menjabat sebagai Kasi Informasi dan Sarana Komunikasi Keimigrasian di Kantor Imigrasi Kelas II Merauke di Pos Imigrasi Perbatasan Sota, yang berbatasan dengan Papua Nugini.
“Di sana ada jalur tradisional lintas batas. Hanya warga lokal dengan izin khusus yang boleh lewat. Tapi tetap kami awasi, ada 6 pos Imigrasi aktif,” jelas Roni.
Ia menceritakan bagaimana perjanjian internasional mengatur perlintasan tersebut, dan betapa pentingnya peran petugas dalam menjaga kedaulatan.
Di balik tugas berat itu, ada momen yang menyentuh hati.
“Saya belajar dari anak-anak Papua. Meski hidup sederhana, mereka bahagia. Main di alam, tertawa lepas. Kita kadang lupa, bahwa bahagia itu bukan soal materi,” katanya pelan.
Setelah Merauke, Roni sempat bertugas di Madiun sebagai Kasi Inteldakim (2019).
Kemudian ditugaskan di Tangerang dan Jakarta Pusat dengan posisi berbeda, dari Kasi Izin Tinggal hingga Kasi Inteldakim. Masing-masing memberi pelajaran baru.
Di masa pandemi Covid-19, ia sempat mengalami kantor tutup total dari Maret hingga Juli 2020.
“Unik sekali. Kami tetap bekerja menjalankan tugas dari rumah, sambil memastikan WNA tidak menyalahgunakan izin tinggal,” kenangnya.
Sejak Maret 2025, Roni resmi menjabat sebagai Kasi Inteldakim di Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Pemalang.
Meski tak ada Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI), bukan berarti wilayah ini sepi tugas.
“Pengawasan orang asing tetap kami lakukan. Kami bersinergi dengan kepolisian, TNI, dan instansi daerah untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas wilayah,” tegasnya.
Roni menyadari, tugas Imigrasi bukan hanya administratif, tapi juga strategis.
Ia menutup kisahnya dengan satu kalimat.
“Kami di garis depan pertahanan non-militer negara. Tugas ini soal menjaga identitas dan martabat bangsa,” serunya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla