METROPEKALONGAN.COM, Batang – Suasana tegang di SPBU di wilayah Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, sejak Rabu 23 Juli 2025.
Puluhan warga mendatangi SPBU tersebut untuk menyampaikan protes keras.
Penyebabnya, pertalite yang mereka beli, diduga tercampur tenaga surya hingga menyebabkan kendaraan mereka rusak parah.
Aksi protes ini dipicu oleh unggahan viral di media sosial, yang menampilkan gejala kerusakan serupa dari kendaraan yang baru saja mengisi bahan bakar di SPBU tersebut.
Mulai dari motor yang dimatikan, knalpot yang mengeluarkan asap, hingga mobil tak bisa dihidupkan kembali sama sekali.
Agus, warga Kebondalem, adalah salah satu korban. Ia mengisi pertalite sebanyak Rp 55 ribu untuk motornya. Namun baru beberapa menit setelah itu, motornya mulai tersendat dan knalpot mengeluarkan asap pekat.
Baca Juga: Pasokan BBM Aman selama Ramadan dan Lebaran di Kabupaten Batang, Tapi Tidak dengan Solar dan Gas
“Saya awalnya mengira karena busi, tapi setelah dicek bengkel, ternyata bahan bakar tercampur solar,” keluhnya kesal saat ditemui di SPBU Gringsing, Jumat 25 Juli 2025.
Nasib lebih apes dialami Riyadi, warga Desa Lebo. Mobil KIA Picanto miliknya ngadat total setelah mengisi pertalite Rp 200 ribu pada Selasa siang 22 Juli 2025.
Malam harinya, mesin mati total dan tidak bisa dihidupkan kembali. “Biaya bengkelnya sampai tiga juta rupiah. Niat irit malah tekor,” keluhnya.
Dari pantauan di lapangan, beberapa bengkel di wilayah Gringsing banyak menerima sepeda motor dan mobil yang mengalami masalah serupa.
Mbae, pemilik bengkel lokal mengaku telah menangani puluhan kendaraan yang mengalami kerusakan setelah mengisi pertalite di SPBU tersebut.
"Semua keluhannya mirip. Mesin brebet, knalpot berasap, bahkan beberapa sampai turun mesin. Saat saya cek, pertalite-nya tidak menguap dan terasa licin saat disentuh. Jelas itu bukan Pertalite murni," tegasnya sambil menunjukkan botol berisi sampel bahan bakar.
Pihak SPBU akhirnya angkat suara. Kris, dari manajemen SPBU mengakui adanya human error dalam proses pengisian bahan bakar dari truk tangki.
Solar dan pertalite tercampur akibat kesalahan pengisian ke tandon.
“Ini murni ketidaksengajaan. Kami akan mengganti biaya pembelian pertalite dan servis kendaraan, tapi sebatas gangguan pada pengapian,” ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya memuaskan masyarakat. Banyak korban yang merasa biaya servis jauh lebih besar dari sekadar kerusakan ringan.
“Kalau turun mesin, masa disebut hanya gangguan pengapian?” protes salah satu warga.
Kini, warga masih menunggu tindak lanjut resmi dari SPBU tersebut. Mereka berharap ada kejelasan pertanggungjawaban atas kerugian yang terjadi secara alami.
Baca Juga: Sidak SPBE dan SPBU, Pemkab Batang Pastikan Ketersediaan dan Keakuratan Bahan Bakar
Pemerintah daerah dan dinas terkait pun diharapkan segera turun tangan agar kejadian serupa tak terulang lagi. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla