METROPEKALONGAN.COM, Batang – Insiden langka tercampurnya Pertalite dengan Solar di SPBU Kalikuto, Gringsing, Kabupaten Batang, akhirnya mencapai titik akhir.
Setelah membuka posko aduan dan kompensasi sejak Rabu 23 Juli 2025, pihak SPBU resmi menutup seluruh proses penggantian biaya perbaikan dan bahan bakar pada Sabtu 26 Juli 2025.
Alasan penutupan kompensasi ini karena sebagian besar kendaraan yang terekam CCTV saat pengisian bahan bakar sudah melakukan klaim.
Penutupan tersebut juga telah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian untuk menghindari perpanjangan masalah.
Dari pantauan di lapangan, ratusan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat yang sempat mengisi Pertalite tercampur solar, telah diganti rugi oleh pihak SPBU.
Prosesnya disebut berjalan cepat dan tanpa birokrasi rumit. Warga hanya perlu menunjukkan bukti kwitansi bengkel dan waktu pembelian yang sesuai dengan rekaman CCTV.
“Saya cuma menunjukkan kwitansi, langsung diganti biayanya. Cepat dan nggak berbelit,” ujar Santi, warga Desa Mentosari.
Namun tidak semua memiliki nasib beruntung. Riyadi, pemilik mobil KIA Picanto, hingga kini belum menerima kompensasi karena biaya perbaikannya mencapai Rp 3 juta.
“Katanya masih mau dibicarakan dengan manajemen. Saya diminta menunggu,” keluhnya.
Meski pengumuman penutupan kompensasi sudah dilakukan, beberapa warga tetap berdatangan ke SPBU hingga Minggu 27 Juli 2025.
Salah satunya, Tri, warga Desa Krengseng, yang baru menyadari kerusakan mesin motornya setelah beberapa hari.
“Baru tahu tadi pagi dari tetangga, ternyata saya telat,” ungkapnya kecewa.
Menanggapi insiden ini, Pertamina Patra Niaga melalui Area Manager Comm, Rel & CSR, Taufiq Kurniawan, menyatakan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi.
Pihaknya menegaskan, permasalahan ini bukan disebabkan oleh kualitas produk Pertamina, melainkan murni human error di SPBU yang sedang dalam proses investigasi internal.
Pertamina langsung memerintahkan SPBU 45.512.19 Kalikuto Batang untuk membuka posko aduan konsumen dan memberikan tanggung jawab penuh atas kerugian.
Hingga Sabtu 26 Juli 2025, tercatat 88 kendaraan roda dua telah menerima kompensasi berupa pengisian Pertamax dan biaya servis.
Tak hanya itu, sebagai bentuk sanksi tegas, Pertamina menghentikan pasokan BBM ke SPBU tersebut selama 6 bulan.
Pengelolaan SPBU juga akan dialihkan dari swasta ke PT Pertamina Retail, sebagai bagian dari pembinaan dan evaluasi mendalam.
Untuk menjaga ketersediaan BBM, suplai Pertalite dan Solar dialihkan ke SPBU Gringsing dan Penaruban, Kendal.
Pihak SPBU mengakui kesalahan terjadi saat proses pengisian tangki, di mana slang solar tertukar dengan tangki Pertalite.
"Ini murni kelalaian, bukan kesengajaan. Kami sudah mengevaluasi dan akan memperketat pengawasan," ujar salah satu petugas SPBU yang enggan disebutkan namanya.
Masyarakat pun memberikan apresiasi atas respons cepat SPBU dalam menangani insiden ini.
Tidak ada kericuhan, antrean berlangsung tertib, dan mayoritas konsumen merasa terbantu.
Namun, bagi mereka yang terlambat atau tidak mengetahui adanya program kompensasi, kejadian ini menjadi pelajaran penting waktu adalah segalanya, termasuk dalam urusan klaim kerugian. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla