Dari tujuh penerima penghargaan tahun ini, Mas Aaf -sapaan akrab wali kota- tercatat sebagai satu-satunya kepala daerah aktif yang meraihnya.
Satyalancana ini tak datang begitu saja. Sejumlah program inovatif menjadi dasar penilaian, di antaranya KAKAP EMAS (Kembalikan Kejayaan Perairan Kota Pekalongan bagi Peningkatan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat), pemanfaatan lahan tergenang dengan budidaya jaring apung APUNGKU, hingga pembangunan Technopark Perikanan Jajan Ikan.
Langkah-langkah tersebut bukan hanya menghidupkan kembali perikanan budidaya, tetapi juga menumbuhkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Mudah-mudahan penghargaan ini membawa berkah dan jadi pelecut semangat bagi saya, Bu Wakil Wali Kota, dan semua ASN untuk terus bekerja lebih baik,” kata Mas Aaf penuh rasa syukur.
Namun, di balik penghargaan prestisius itu, Mas Aaf juga membawa PR besar dari pemerintah pusat.
Ia mendapatkan pesan khusus agar segera menuntaskan persoalan sampah di Kota Pekalongan.
“Kita ditargetkan masalah sampah bisa selesai bulan Desember. Saat ini, progres terus berjalan dan saya mohon dukungan masyarakat agar kita benar-benar bisa mewujudkan target itu,” tegasnya.
Bagi Mas Aaf, penghargaan ini bukan titik akhir, melainkan awal dari tantangan baru. Kota Pekalongan yang kini mulai dilirik pemerintah pusat diharapkan terus menunjukkan prestasi, tak hanya di sektor perikanan, tetapi juga dalam penataan lingkungan.
“Kalau kita sering menunjukkan prestasi, pasti menjadi perhatian pemerintah pusat,” katanya optimistis.
Dengan raihan Satyalancana Wira Karya, Pekalongan tak hanya dikenang sebagai kota batik, tetapi juga sebagai kota yang berkomitmen menghidupkan sektor maritim sekaligus serius menjaga kebersihan lingkungannya. (han/ida)