METROPEKALONGAN.COM, Batang – Ancaman abrasi dan banjir rob di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa terus menjadi sorotan. Kabar baiknya, pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) kini menguat sebagai proyek prioritas nasional.
Menariknya, wilayah Pekalongan hingga Batang Barat dipastikan masuk dalam peta awal rancangan infrastruktur penahan ombak ini.
Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota DPR RI, Rizal Bawazier, di sela-sela kegiatannya di Masjid At-Tanwir, Kabupaten Batang.
Rizal membeberkan bahwa usulan rute tanggul laut untuk Pantura Jawa Tengah saat ini difokuskan mulai dari Ulujami di Kabupaten Pemalang, membentang hingga Batang bagian barat.
“Pekalongan itu kita mintanya nanti dari Ulujami sampai Batang Barat,” ujarnya, Jumat 3 April 2026.
Politisi tersebut mengakui bahwa kawasan Batang Barat merupakan salah satu titik krusial yang paling parah terdampak gempuran rob dan abrasi.
Meski urgensinya tinggi, panjang pasti tanggul laut yang akan memagari wilayah Batang masih menunggu kepastian dari kajian teknis lanjutan.
“Saya belum ngukur, tapi Batang Barat itu yang kemarin parah,” katanya.
Rizal merinci, eksekusi megaproyek Giant Sea Wall ini akan dilakukan secara bertahap menggunakan sistem prioritas wilayah.
Secara konsep makro, tanggul laut ini diproyeksikan membentang mengamankan pesisir utara dari Banten hingga Gresik.
Namun, keterbatasan waktu dan efisiensi anggaran memaksa pemerintah pusat untuk mendahulukan titik-titik paling kritis.
“Kalau kita tunggu semua selesai dari Banten sampai Gresik, Pekalongan kapan dapatnya, makanya kita minta prioritas,” tegasnya.
Lantas, apakah proyek penahan rob ini akan diperluas hingga ke pesisir Batang Timur?
Terkait hal itu, Rizal menyebut keputusan akan sangat bergantung pada hasil evaluasi tingkat keparahan dampak abrasi di lapangan.
“Kalau memang harus diperpanjang sampai Batang Timur, nanti dilihat seberapa parahnya,” ujarnya.
Groundbreaking dimulainya proyek tanggul laut raksasa tersebut memang belum diketok palu.
Rizal mengingatkan perlunya pengawalan bersama terhadap komitmen besar pemerintah ini, terlebih di tengah tantangan fiskal negara saat ini.
“Ini angka besar, apalagi sekarang anggaran diefisiensikan, tapi prinsipnya pemerintah ingin membantu,” katanya.
Desakan agar pesisir Jawa Tengah diprioritaskan juga datang dari jajaran menteri.
Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo secara terang-terangan telah mengusulkan kawasan Pekalongan masuk dalam prioritas tahap pertama pembangunan Giant Sea Wall kepada Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ).
Dody menyoroti fakta miris kondisi daratan Pekalongan yang saat ini terus mengalami penurunan muka tanah (land subsidence).
“Pekalongan itu sudah di bawah muka air laut, jadi perlu diprioritaskan,” ujarnya.
Langkah cepat merealisasikan tanggul laut ini bukan semata untuk menahan air, melainkan langkah krusial menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Data menunjukkan, kawasan Pantura memiliki kontribusi masif dengan menyumbang sekitar 368,3 miliar dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Hadirnya Giant Sea Wall diharapkan menjadi solusi konkret penanganan rob sekaligus menyelamatkan urat nadi perekonomian pesisir utara Jawa. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla