METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Harapan baru bagi masyarakat pesisir mulai tumbuh. Pemerintah Kota Pekalongan menyambut positif dimulainya langkah awal pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa sebagai bagian dari proyek strategis nasional perlindungan kawasan pesisir utara Jawa (Pantura).
Bagi Kota Pekalongan, proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi menjadi harapan nyata untuk mengatasi persoalan banjir rob, abrasi, hingga dampak perubahan iklim yang selama bertahun-tahun membayangi wilayah pesisir.
Komitmen tersebut mengemuka saat Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu yang digelar di Ballroom Gedung Mina Bahari III, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (4/5/2026). Pertemuan strategis ini dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto terkait percepatan pembangunan tanggul laut raksasa di sepanjang Pantura.
WaliKta Afzan Arslan Djunaid, yang akrab disapa Aaf, hadir bersama jajaran Pemkot Pekalongan, termasuk Kepala Bapperida dan Kepala DPUPR Kota Pekalongan, sebagai bentuk dukungan penuh terhadap proyek tersebut.
“Pembangunan Giant Sea Wall merupakan solusi jangka panjang yang sangat krusial dalam melindungi kawasan pesisir dari ancaman banjir rob, abrasi, serta dampak perubahan iklim,” ujar Aaf, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, berbagai upaya penanganan memang telah dilakukan selama ini, namun dibutuhkan langkah yang lebih besar, terintegrasi, dan berkelanjutan agar perlindungan kawasan pesisir bisa lebih optimal.
Selain aspek lingkungan, Aaf menilai proyek ini juga akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan kondisi pesisir yang lebih aman, sektor perikanan, perdagangan, hingga pariwisata diperkirakan dapat berkembang lebih stabil.
Dalam forum tersebut, Menko AHY menjelaskan proyek giant sea wall direncanakan membentang sepanjang 565 kilometer, mulai dari Banten hingga Gresik, mencakup berbagai wilayah pesisir yang terdampak banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah.
“Di beberapa wilayah, penurunan muka tanah bahkan mencapai 1 sampai 20 sentimeter per tahun,” ungkap AHY.
Sementara itu, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit H. Ashaf, menegaskan bahwa Pekalongan menjadi salah satu daerah prioritas dalam proyek tersebut karena tingkat kerentanan terhadap rob dan land subsidence cukup tinggi.
Saat ini, Pekalongan masih berada dalam tahap mitigasi dan investigasi kondisi perairan serta kawasan pesisir. Tahap ini akan menjadi dasar sebelum proyek memasuki fase konstruksi.
Dengan dimulainya tahapan awal giant sea wall, Pemkot Pekalongan optimistis perlindungan wilayah pesisir akan semakin kuat, sekaligus membuka harapan baru bagi masa depan kawasan pesisir yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.(han)