METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Di tengah semangat para pelari mengawal rombongan Sungai Watch menuju finis di kawasan Lapangan Mataram, terselip sebuah kisah lama yang kembali hidup di Kota Pekalongan.
Adalah I Gede Ardi Suryana, yang akrab disapa Dodix, pengelola The Sidji Hotel, yang ternyata telah mengenal pendiri Sungai Watch, Gary Bencheghib, sejak masih remaja.
Pertemuan mereka di Pekalongan saat kegiatan Run for River menjadi momen nostalgia tersendiri bagi Dodix. Ia mengaku sudah mengenal Gary sekitar 16 tahun lalu, ketika aktivis lingkungan asal Prancis itu masih duduk di bangku SMP dan baru berusia sekitar 14 tahun.
“Waktu itu masih zaman Facebook. Gary sering posting kegiatan bersih-bersih pantai di Bali lewat gerakan kecil namanya Make a Change Bali,” kenang Dodix.
Rasa penasaran membuat Dodix mendatangi langsung kegiatan Gary di kawasan Pantai Kedonganan dan Pantai Kayu Putih, Bali. Dari situ, ia mulai ikut mendukung kegiatan lingkungan yang dilakukan Gary bersama teman-temannya.
Menurut Dodix, Gary muda terlihat berbeda dibanding kebanyakan anak muda asing lain yang tinggal di Bali saat itu.
“Saya heran. Anak-anak bule di Bali biasanya hidupnya pesta, nongkrong, senang-senang. Tapi Gary malah bangun pagi bersihin sampah pantai sendirian lalu diposting di Facebook,” ujarnya.
Awalnya, gerakan itu hanya dilakukan beberapa anak muda. Namun perlahan berkembang menjadi aksi lingkungan yang serius hingga akhirnya melahirkan Sungai Watch pada tahun 2020.
Sungai Watch sendiri didirikan di Bali oleh tiga bersaudara asal Prancis, yakni Gary, Sam Bencheghib, dan Kelly Bencheghib. Organisasi tersebut fokus menangani pencemaran sampah plastik di sungai melalui pemasangan penghalang sampah dan aksi bersih sungai rutin.
Suasana hangat dan penuh candaan pun sempat muncul saat Dodix ditanya kesannya melihat Gary sekarang yang sudah dikenal luas sebagai aktivis lingkungan dunia.
Dengan nada bercanda, Gary langsung nyeletuk, “Pasti saya tambah ganteng kan,” serunya sambil tertawa kecil yang langsung disambut gelak tawa orang-orang di sekitarnya.
Tak hanya itu, Gary juga sempat memperkenalkan kedua saudaranya kepada peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut. Yang menarik, Gary memperkenalkan sang adik, Sam, dengan panggilan khas ala Indonesia.
“Ini Sam… biasa dipanggil Samsudin,” ucap Gary sambil tersenyum.
Candaan ringan itu membuat suasana terasa cair dan akrab, meski mereka dikenal sebagai aktivis lingkungan internasional.
Dodix mengaku sempat kembali bertemu Gary sekitar empat tahun lalu di fasilitas pengolahan sampah milik Sungai Watch di Bali. Dan dirinya dapat hadia kaos Sungai Watch edisi lama, yang kini digunakan unutk lari.
Setelah cukup lama tidak berjumpa, keduanya kembali dipertemukan secara tidak sengaja di Kota Pekalongan.
“Saya lihat dia lari menuju Semarang, lalu saya DM. Ternyata lewat Pekalongan, akhirnya saya ajak mampir dan istirahat di hotel yang saya kelola,” katanya.
Bagi Dodix, perkembangan Gary dari remaja pecinta lingkungan menjadi tokoh penggerak aksi lingkungan dunia adalah sesuatu yang membanggakan.
“Dari dulu saya sudah kagum. Saat anak muda lain sibuk hiburan malam, dia malah bangun pagi ngurus sampah. Sekarang gerakannya jadi besar,” tuturnya.
Ia pun mengaku sengaja mendukung kegiatan Run for River sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensi Gary dalam memperjuangkan isu lingkungan selama bertahun-tahun.
“Masalah sampah masih jadi persoalan di banyak tempat. Saya sangat mendukung gerakan mereka dan semoga semakin sukses,” pungkasnya.(han)
Editor : Agus AP