Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Kota Pekalongan Jadi Percontohan Nasional Adaptasi Iklim, Wali Kota Aaf Paparkan Strategi Hadapi Rob dan Abrasi di Forum Nasional

Lutfi Hanafi • Kamis, 25 Juni 2026 | 21:29 WIB
IST
PAPARAN - Walikota Pekalongan Aaf saat berikan paparan dalam Seminar Nasional Ketahanan Iklim Berkelanjutan yang di Jakarta, Rabu (24/6/2026) kemarin.
PAPARAN : Wali Kota Pekalongan HA Adzan Arslan Djunaid memberikan paparan dalam Seminar Nasional Ketahanan Iklim Berkelanjutan yang di Jakarta, Rabu 24 Juni 2026.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Kota Pekalongan kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional.

Kota pesisir yang selama bertahun-tahun bergelut dengan persoalan rob dan abrasi ini ditetapkan sebagai salah satu model percontohan nasional dalam aksi ketahanan iklim berbasis masyarakat.

Keberhasilan tersebut dipaparkan langsung oleh Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid, dalam Seminar Nasional Ketahanan Iklim Berkelanjutan yang berlangsung di Jakarta, Rabu 24 Juni 2026.

Forum yang dihadiri para pemangku kepentingan nasional dan internasional itu menjadi ajang berbagi praktik baik daerah dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Dalam paparannya, Wali Kota yang akrab disapa Mas Aaf menjelaskan bagaimana Kota Pekalongan membangun peta jalan adaptasi iklim untuk menghadapi ancaman lingkungan, khususnya rob dan abrasi yang selama ini menjadi tantangan utama wilayah pesisir.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara Pemerintah Kota Pekalongan, Kemitraan sebagai National Implementing Entity (NIE), serta dukungan pendanaan internasional dari Adaptation Fund.

"Kami berfokus pada pendekatan inklusi sosial, memastikan seluruh kelompok masyarakat terlibat aktif mulai dari proses perencanaan hingga pelaksanaan program di lapangan," ujar Aaf, Kamis 25 Juni 2026.

Sebagai daerah yang rentan terhadap dampak krisis iklim, Kota Pekalongan dinilai mampu mengintegrasikan upaya perlindungan lingkungan dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Strategi tersebut diwujudkan melalui sejumlah program nyata, mulai dari pembangunan infrastruktur drainase adaptif, pengembangan kawasan mangrove dan silvofishery, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif melalui produksi batik ekologis yang ramah lingkungan.

Tidak hanya pemerintah, keberhasilan tersebut juga ditopang oleh keterlibatan aktif masyarakat.

Dalam seminar tersebut, Kota Pekalongan hadir bersama perwakilan kelompok masyarakat seperti Kelompok Batik Ekologis, KTH Rimba Degayu, KSM TPST Mitra Brayan Resik, KOBAR, serta Pokja Perubahan Iklim dari delapan kelurahan yang selama ini menjadi garda terdepan pelaksanaan program adaptasi iklim di tingkat lokal.

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Franky Zamzani, memberikan apresiasi terhadap langkah konkret yang dilakukan Kota Pekalongan.

Menurutnya, keberhasilan adaptasi iklim hanya dapat tercapai melalui komitmen pemerintah daerah yang kuat serta partisipasi aktif masyarakat.

"Apa yang dilakukan di Pekalongan menjadi bukti bahwa adaptasi perubahan iklim dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat," ungkap Franky.

Apresiasi juga datang dari tingkat internasional. Perwakilan Adaptation Fund Secretariat, Hugo Remaury, menilai Kota Pekalongan menjadi contoh bagaimana pendanaan global dapat dimanfaatkan secara efektif untuk memperkuat ketahanan daerah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Dalam sesi diskusi bertajuk Inklusi Sosial dalam Adaptasi Perubahan Iklim: Pelajaran dari Pekalongan, para panelis menyoroti keberhasilan kota ini dalam menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan ketahanan iklim.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan solusi yang tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Direktur Eksekutif Kemitraan, Nurina Widagdo menegaskan, keterlibatan masyarakat merupakan faktor kunci dalam keberhasilan program adaptasi iklim yang berkelanjutan.

Melalui seminar nasional yang berlangsung selama dua hari tersebut, praktik baik dari Kota Pekalongan bersama empat daerah lainnya, yakni Bulukumba, Maluku Tengah, DAS Sadang, dan Samarinda, diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan nasional dalam menghadapi krisis iklim.

Pada hari kedua seminar, Pemerintah Kota Pekalongan kembali dijadwalkan memaparkan strategi integrasi aksi iklim ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, termasuk pengarusutamaan gender dan perlindungan kelompok rentan.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Kota Pekalongan untuk memastikan ketahanan iklim berjalan beriringan dengan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid #Walikota Aaf #pekalongan #perubahan iklim