METROPEKALONGAN.COM- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda antara Lampung dan Banten dari level II (waspada) menjadi level III (siaga). Keputusan itu diberlakukan mulai Kamis (2/7/26), menyusul terjadinya peningkatan aktivitas yang signifikan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan keputusan peningkatan status Anak Gunung Krakatu, setelah pihaknya melakukan analisi secara komprehensif terhadap data visual, aktivitas kegempaan, deformasi gunung api, serta hasil pemantauan satelit.
"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB," ungkap Lana dalam keterangan tertulisnya, Jumat siang (3/7/26).
Lana menambahkan, peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau telah terdeteksi sejak awal Juni 2026.
Dia membeberkan indikasinya yakni meningkatnya emisi gas sulfur dioksida (SO2), munculnya anomali panas di kawah, serta lonjakan gempa vulkanik dangkal yang mengindikasikan adanya pergerakan magma menuju permukaan.
Aktivitas tersebut memuncak pada Kamis (2/7/2026) sekitar pukul 14.05 WIB saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak.
"Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan berlangsung selama sekitar 20 detik," jelasnya.
Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu vulkanik apabila aktivitas erupsi terus meningkat.
"Bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir Lampung dan Banten, agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami tanpa dasar ilmiah."imbaunya. (sls)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto