METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Sungai Bendan Kergon, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, kembali menghadapi persoalan lama.
Setelah ratusan kilogram sampah diangkut dalam aksi bersih sungai beberapa bulan lalu, tumpukan plastik kini kembali terlihat di sekitar jembatan.
Kondisi itu membuat upaya membersihkan sungai seolah belum menyelesaikan akar persoalan.
Sampah yang terbawa arus dari bagian selatan sungai kembali tertahan di titik yang sama dan perlahan membentuk tumpukan.
Lurah Bendan Kergon, Mahmudin, menjelaskan, keberadaan sampah di sekitar jembatan tidak serta-merta menunjukkan bahwa warga setempat menjadi sumber pembuangan.
Menurutnya, bentuk aliran sungai menjadi salah satu penyebab utama sampah mudah terkumpul. Setelah melewati jembatan, aliran sungai berbelok membentuk huruf L.
Pada bagian tikungan tersebut terdapat sedimentasi tanah yang membuat aliran air tidak lancar.
“Karena alirannya berbelok dan ada sedimentasi, sampah yang terbawa arus akhirnya tertahan di sekitar jembatan,” jelasnya, pada Minggu (13/9/2026).
Baca Juga: Cari Korban di Medsos, Bawa Kabur Motor dan HP, Dibui
Kondisi itu semakin terlihat ketika memasuki musim kemarau. Debit air yang tidak terlalu deras membuat kemampuan sungai membawa sampah menuju bagian hilir berkurang.
Kondisi itu semakin terlihat ketika memasuki musim kemarau. Debit air yang tidak terlalu deras membuat kemampuan sungai membawa sampah menuju bagian hilir berkurang.
Akibatnya, sampah plastik yang datang dari berbagai titik justru lebih lama tertahan.
Warga Bendan Kergon, Dul Nurmalatif, juga mengungkapkan hal serupa. Ia menyebut sampah yang terlihat di sekitar jembatan lebih banyak terbawa arus dari bagian sungai lainnya, bukan semata-mata berasal dari warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Menurut dia, persoalan tersebut bahkan membuat warga sekitar merasa seolah menjadi pihak yang dituding sebagai pembuang sampah.
“Warga sekitar juga tidak mau kalau terus dianggap membuang sampah di situ. Sampah itu terbawa arus dan berhenti karena kondisi sungainya,” ujarnya.
Persoalan sampah tersebut sebenarnya sudah pernah ditangani secara besar-besaran. Pada Kamis, 7 Mei 2026, kawasan sungai di Jalan Sulawesi, Bendan Kergon, menjadi lokasi aksi Run for Rivers yang digelar Sungai Watch dalam kampanye lari sekitar 1.200 kilometer dari Bali menuju Jakarta.
Baca Juga: 293 Anak Ikuti Asesmen Keterlambatan Perkembangan, Dinas Pendidikan Petakan Kebutuhan Belajar
Aksi yang juga diikuti Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, Plt Bupati Pekalongan Sukirman, jajaran OPD, komunitas lari dan relawan lingkungan itu berhasil mengangkat 91 kampil sampah.
Aksi yang juga diikuti Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, Plt Bupati Pekalongan Sukirman, jajaran OPD, komunitas lari dan relawan lingkungan itu berhasil mengangkat 91 kampil sampah.
Total sampah yang berhasil dikumpulkan dalam waktu sekitar 1,5 jam mencapai 750,85 kilogram. Sebagian besar merupakan sampah plastik yang terjebak di aliran sungai.
Namun, berselang beberapa bulan, tumpukan sampah kembali muncul. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sungai bukan sekadar soal mengangkut sampah yang sudah menumpuk, tetapi juga bagaimana membuat aliran sungai tetap lancar dan menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Mahmudin mengatakan, salah satu solusi yang perlu dilakukan adalah pengerukan sedimentasi di bagian tikungan sungai. Dengan begitu, aliran air diharapkan kembali lancar sehingga sampah tidak mudah terjebak di sekitar jembatan.
Baca Juga: Lugman Hidayat, Merajut Persatuan Kota Pekalongan Lewat Bulutangkis
Selain pengerukan, tumbuhan yang tumbuh di area endapan juga perlu dibersihkan karena ikut menghambat aliran.
Selain pengerukan, tumbuhan yang tumbuh di area endapan juga perlu dibersihkan karena ikut menghambat aliran.
Untuk jangka panjang, pihak kelurahan berencana memperkuat keterlibatan warga di sepanjang aliran sungai.
Salah satu gagasannya adalah membuat kisi-kisi atau penghalang sederhana di sejumlah titik sebelum jembatan.
Kisi-kisi tersebut nantinya dapat berfungsi menahan sampah yang terbawa arus. Dari sana, warga bisa mengetahui titik mana yang paling banyak menghasilkan sampah dan menjadikannya bahan evaluasi untuk sosialisasi.
Cara tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan saling menuding mengenai siapa yang membuang sampah ke sungai.
“Kalau sekarang kan akhirnya saling tuduh. Dengan adanya titik penahan sampah, nanti bisa terlihat dari mana sampah paling banyak datang dan menjadi bahan untuk pembinaan,” kata Mahmudin.
Selain itu, kelurahan juga ingin melibatkan petugas pengangkut sampah agar warga tidak lagi memiliki alasan membuang sampah ke sungai. Mekanismenya dapat disesuaikan dengan kesepakatan masing-masing wilayah, termasuk mengenai biaya pengangkutan.
"Jika persoalan sedimentasi dan aliran sungai dapat diselesaikan, penghalang tersebut diharapkan bisa ditinjau kembali. Selain membuat sungai lebih bersih, kawasan jembatan juga dapat kembali terlihat rapi dan estetis," serunya.(han)
Sumber : metropekalongan.com