BPJS Kesehatan Biayai Rp 100 Triliun untuk Penyakit Jantung, Alarm Bagi Anak Muda

Riyan Fadli • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 19:10 WIB
Ilustrasi Ai
Ilustrasi Ai

METROPEKALONGAN.COM, Jakarta – Penyakit jantung tak lagi sekadar ancaman bagi kaum lanjut usia (lansia). Diam-diam, pembunuh senyap ini makin masif menyerang kelompok usia produktif dan menjadi "penyedot" anggaran terbesar BPJS Kesehatan.

Tak main-main, dalam satu dekade terakhir (2015-2025), BPJS Kesehatan harus merogoh kocek lebih dari Rp 100 triliun hanya untuk membiayai 172,3 juta kasus penyakit jantung di Indonesia.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, membenarkan adanya lonjakan kasus yang sangat tajam. Penyakit jantung, kata dia, kokoh menduduki urutan pertama sebagai penyakit kronis dengan biaya perawatan termahal.

“Seiring dengan bertumbuhnya jumlah peserta, pemanfaatan Program JKN untuk membiayai penyakit jantung juga ikut bertambah. Tahun 2015, ada 4,6 juta kasus penyakit jantung yang ditanggung BPJS Kesehatan dengan biaya sebesar Rp4,4 triliun. Angka tersebut terus bergerak naik hingga pada tahun 2025 jumlahnya mencapai 29,8 juta kasus dan menyedot biaya BPJS Kesehatan hingga Rp17,4 triliun,” beber Rizzky, Selasa (29/09).

Sebagai perbandingan, pada rentang waktu yang sama, biaya penanganan penyakit gagal ginjal berada di urutan kedua dengan total Rp 83,8 triliun untuk 81,2 juta kasus. Disusul penyakit kanker di urutan ketiga sebesar Rp 66 triliun untuk penanganan sekitar 45 juta kasus.

Lebih lanjut, Rizzky memaparkan betapa besarnya beban penyakit katastropik terhadap kondisi keuangan JKN secara keseluruhan.

“Tahun 2025, tercatat BPJS Kesehatan mengeluarkan biaya Rp50,3 triliun untuk membayar biaya 59,9 juta kasus penyakit katastropik, seperti jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, dan lain-lain. Penyakit katastropik ini menghabiskan 26,42% dari total biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan BPJS Kesehatan. Padahal penyakit kronis rata-rata dapat dicegah melalui perubahan pola hidup sehat dan deteksi dini kesehatan secara rutin,” paparnya.

Baca Juga: PEKA BPJS Ketenagakerjaan, Santunan Jadi Modal Ahli Waris Mandiri

Momen Hari Jantung Sedunia pun menjadi alarm keras bagi masyarakat. Mengingat tren penderita mulai bergeser ke usia produktif, BPJS Kesehatan langsung mengambil langkah taktis dengan menggagas Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Muda.

Program ini membidik masyarakat di bawah usia 45 tahun guna menekan angka penderita kronis. Lewat Prolanis Muda, faskes dan berbagai stakeholder diajak berkolaborasi menggalakkan gaya hidup aktif bergerak.

“Mengadopsi pola hidup sehat dan aktif berolahraga adalah investasi terbaik untuk masa depan kesehatan kita lima atau sepuluh tahun mendatang. Yang penting ada komitmen dan konsistensi diri sendiri. Selain itu, jangan lupa manfaatkan layanan Skrining Riwayat Kesehatan yang disediakan BPJS Kesehatan untuk mendeteksi risiko penyakit kronis sejak dini,” pesan Rizzky.

Bagi peserta JKN berusia 15 tahun ke atas, skrining kesehatan kini bisa dilakukan setahun sekali dengan sangat praktis. Masyarakat bisa mengakses berbagai layanan digital maupun datang langsung ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) terdaftar.

“Makin cepat terdeteksi, makin cepat diantisipasi dan ditangani. Jangan lupa juga, selagi masih sehat, sempatkanlah untuk mengecek status kepesertaan JKN Anda. Kalau status kepesertaan JKN kita aktif, kita jadi lebih tenang berobat kapan pun diperlukan karena sudah ada kepastian jaminan pembiayaan dari BPJS Kesehatan,” pungkasnya.(yan)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan
penyakit jantung anak muda bpjs kesehatan