METROPEKALONGAN.COM, Jakarta – Batik kembali menjadi sorotan setiap kali Indonesia memperingati Hari Batik Nasional pada 2 Oktober. Di balik kain bermotif yang kini dikenakan dalam berbagai kesempatan itu, tersimpan perjalanan panjang hingga batik Indonesia mendapatkan pengakuan UNESCO.
Perjalanan tersebut bahkan pernah diwarnai polemik mengenai identitas dan asal-usul batik. Malaysia dan China sempat muncul dalam sejumlah perdebatan publik terkait batik, sementara pada 2024 YouTuber asal Amerika Serikat IShowSpeed ikut dibuat bingung ketika seorang penggemar di Malaysia menyebut batik sebagai pakaian tradisional Malaysia.
IShowSpeed kemudian mencari informasi sendiri melalui Google. Hasil pencarian yang ditemukannya menyebut batik berasal dari Indonesia. Momen tersebut kemudian menjadi viral di media sosial.
Kisah IShowSpeed itu kembali mengingatkan publik pada perjalanan batik Indonesia menuju pengakuan dunia. Sebab, jauh sebelum video tersebut viral, Indonesia telah lebih dulu mendaftarkan batik sebagai warisan budaya takbenda kepada UNESCO.
Baca Juga: Mendadak, Prabowo Reshuffle Kabinet, Ini Daftar Lengkapnya
Baca Juga: Pancasila Tak Tergantikan, Generasi Muda Diminta Teladani Veteran
UNESCO mencatat Indonesian Batik dengan Nomination File Nomor 00170. Batik Indonesia kemudian ditetapkan pada 2009 dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity atau Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Dalam keputusan UNESCO, batik dinilai bukan semata-mata kain yang memiliki motif tertentu. Yang diakui adalah teknik, simbolisme dan kebudayaan yang mengiringi tradisi batik di Indonesia.
UNESCO menyebut batik memiliki simbol yang berkaitan dengan status sosial, kehidupan masyarakat, alam, sejarah dan warisan budaya. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia serta terus berkembang tanpa kehilangan makna tradisionalnya.
Batik juga lekat dengan perjalanan hidup masyarakat. UNESCO mencatat penggunaannya dalam berbagai tahap kehidupan, mulai dari kelahiran, kehidupan sehari-hari, pernikahan dan kehamilan hingga pertunjukan wayang serta ritual tertentu.
Baca Juga: Fokus Pendidikan dan SDM, Kota Pekalongan Raih Terbaik III Pembangunan Nasional
Baca Juga: Cara Daftar Job Fair Kota Pekalongan 2026, Ini Syaratnya
Karena itu, pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia tidak berarti UNESCO mengklaim bahwa hanya Indonesia yang mengenal teknik pewarnaan kain menggunakan lilin. UNESCO justru mendokumentasikan kekayaan tradisi batik Indonesia beserta teknik, simbol, makna dan hubungan sosial budayanya.
Polemik dengan Malaysia sendiri sudah muncul jauh sebelum pengakuan UNESCO. Pada 2008, isu mengenai batik, reog dan sejumlah budaya lain menjadi perdebatan panas antara masyarakat Indonesia dan Malaysia. Saat itu, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato Zainal Abidin Zain menyatakan bahwa batik juga ada dan digunakan di Malaysia.
Artinya, persoalan tersebut lebih kompleks daripada sekadar pertanyaan siapa yang pernah memakai batik. Tradisi tekstil dengan teknik pewarnaan tertentu memang dikenal di sejumlah wilayah, tetapi Indonesia kemudian memperoleh pengakuan UNESCO untuk Indonesian Batik sebagai elemen budaya takbenda Indonesia.
Polemik serupa kembali menjadi perhatian publik pada 2024. Saat berada di Malaysia, IShowSpeed menerima kemeja batik dari seorang penggemar yang menyebutnya sebagai pakaian tradisional Malaysia.
Baca Juga: HP Jadi Kebutuhan Utama, Servis HP Jadi Peluang Kerja
Baca Juga: Butuh Kerja? Pemkot Pekalongan Buka 1.200 Lowongan, Ini Caranya
Speed kemudian tampak kebingungan karena mendapat informasi berbeda dari penonton siaran langsungnya. Ia membuka ponsel dan melakukan pencarian mengenai asal batik.
Dari hasil pencarian tersebut, ia menemukan keterangan bahwa batik berasal dari Indonesia. Speed bahkan mempertanyakan mengapa orang yang memberinya pakaian tersebut menyebut batik berasal dari Malaysia.
Momen tersebut menarik perhatian karena terjadi di tengah perdebatan lama mengenai identitas batik. Namun, video IShowSpeed bukanlah dasar hukum atau bukti pengakuan budaya. Status resmi batik Indonesia justru tercatat dalam dokumen UNESCO sejak 2009.
Tak hanya Malaysia, nama China juga pernah muncul dalam polemik batik. Pada Juli 2020, kantor berita Xinhua mempublikasikan video yang menyebut batik sebagai kerajinan tradisional yang umum di kalangan kelompok etnis di China.
Unggahan tersebut memicu protes dari warganet Indonesia. Setelah mendapat sorotan, Xinhua kemudian membuat unggahan lain yang menjelaskan batik sebagai istilah yang berasal dari bahasa Indonesia dan teknik pewarnaan dengan lilin yang dipraktikkan di berbagai wilayah dunia.
Baca Juga: Festival Literasi Pekalongan Siap Jadi Ruang Kreativitas
Baca Juga: ASN Kota Pekalongan Viral Minta Maaf, Sanksi Masih Dibahas
Polemik tersebut menunjukkan bahwa teknik menghias kain dengan lilin dan pewarna bukan hanya dikenal di satu wilayah. Namun, UNESCO secara spesifik mengakui Indonesian Batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia pada 2009.
Yang menarik, dalam proses penetapannya UNESCO tidak hanya melihat kain batik sebagai benda. Komite UNESCO menyatakan masyarakat yang terkait dengan batik terlibat luas dalam proses nominasi melalui penelitian lapangan, penyusunan berkas, seminar serta pemberian persetujuan.
Pengakuan itu kemudian menjadi dasar penting bagi Indonesia untuk terus melindungi dan mengembangkan tradisi batik. Dalam daftar UNESCO, Indonesian Batik tercatat pada 2009, berdampingan dengan sejumlah warisan budaya takbenda lainnya.
Pekalongan sendiri memiliki posisi penting dalam upaya pelestarian batik. UNESCO mencatat program pendidikan dan pelatihan mengenai warisan budaya batik Indonesia yang melibatkan Museum Batik di Pekalongan sebagai salah satu praktik baik pelindungan warisan budaya.
Maka, ketika IShowSpeed mencari jawaban soal asal batik melalui Google, peristiwa itu memang menarik secara viral. Tetapi jawaban mengenai status batik Indonesia sebenarnya sudah tercatat jauh sebelumnya dalam dokumen resmi UNESCO.
Setiap 2 Oktober, Hari Batik Nasional menjadi pengingat bahwa batik bukan sekadar pakaian bermotif. Di dalamnya terdapat teknik, keterampilan, simbol, filosofi serta tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Dari polemik lintas negara hingga pencarian sederhana seorang YouTuber Amerika di Google, batik terus membawa satu cerita yang sama: sebuah tradisi lokal yang telah mendapatkan pengakuan di panggung budaya dunia. (han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com