HBN 2026 di Kota Pekalongan, Ada Gunungan Nasi Hingga Senam Bersama

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 20:49 WIB
ARAK GUNUNGAN NASI : Sejumlah peserta saat arak gunungan nasi saat peringatan HBN di Kota Pekalongan, pada Jumat (2/10/2026).(Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)
ARAK GUNUNGAN NASI : Sejumlah peserta saat arak gunungan nasi saat peringatan HBN di Kota Pekalongan, pada Jumat (2/10/2026).(Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Hari Batik Nasional 2026 di Kota Pekalongan tidak sekadar menjadi momentum mengenakan batik. Di balik kemeriahan perayaan, Pemerintah Kota Pekalongan kembali mengingatkan bahwa predikat Kota Batik Dunia merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama yang harus terus dijaga.

Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Pekalongan H. A. Afzan Arslan Djunaid atau Aaf saat memimpin upacara peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di halaman Museum Batik Kota Pekalongan, Jumat (2/10/2026).

Peringatan tahun ini dikemas dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan pemerintah, pelajar, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat. Kegiatan tersebut sebelumnya diawali dengan pembukaan pameran Kreakota di Gedung Rumah Dinas Eks Bakorwil Kota Pekalongan, dilanjutkan upacara HBN dan berbagai kegiatan hiburan masyarakat.

“Alhamdulillah, tahun 2026 Kota Pekalongan masih memperingati Hari Batik Nasional dan ini terus kita lakukan. Ada rangkaian acara, antara lain malam pembukaan pameran Kreakota, upacara, dan nanti malam ada karnaval. Antusias masyarakat juga sangat baik,” tutur Aaf.

Baca Juga: Fajar Randi, dari Panggung Musik ke Dunia Pemilu

Baca Juga: Enam Batik Jepara Kini Dipajang di Museum Pekalongan

Namun, di balik perayaan yang meriah, Aaf menegaskan masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan industri batik Pekalongan.

Menurutnya, predikat Kota Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia tidak boleh berhenti sebagai label atau kebanggaan. Status tersebut harus dibarengi dengan kerja nyata untuk menjaga ekosistem batik agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

“Kita patut berbangga bahwa Kota Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia ini harus kita pertahankan. Tetapi bukan berarti masalah sudah selesai,” jelasnya.

REBUTAN GUNUNGAN NASI ; Sejumlah peserta upacara berebut gunungan nasi, usai diarak di depan Museum Batik Pekalongan, saat peringatan HBN di Kota Pekalongan, pada Jumat (2/10/2026).(Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)
REBUTAN GUNUNGAN NASI ; Sejumlah peserta upacara berebut gunungan nasi, usai diarak di depan Museum Batik Pekalongan, saat peringatan HBN di Kota Pekalongan, pada Jumat (2/10/2026).(Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)

Aaf menyebut sejumlah persoalan masih menjadi pekerjaan rumah, mulai dari pengelolaan limbah batik, kenaikan harga bahan baku, hingga keberlangsungan tenaga pembatik.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti masalah limbah, bahan baku yang naik, dan tenaga pembatik,” lanjutnya.

 

Karena itu, pelestarian batik menurutnya tidak cukup hanya dengan menjaga motif dan tradisi. Pemerintah bersama masyarakat juga perlu memastikan kegiatan produksi batik dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tetap memberikan ruang bagi para pembatik untuk bertahan serta berkembang.

Peringatan HBN 2026 di Museum Batik Pekalongan digelar secara sederhana. Upacara diikuti jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), pejabat Pemkot Pekalongan, pelajar, komunitas, serta berbagai tamu undangan.

Baca Juga: Pemkot Pekalongan Dorong Pembatik Kantongi Sertifikasi

Baca Juga: Bukan Sekadar Administrator, Kepala SD Kini Jadi Pemimpin Pembelajaran

Usai upacara, suasana peringatan semakin semarak dengan penyerahan koleksi batik dari Dekranasda Kabupaten Jepara kepada Dekranasda Kota Pekalongan. Enam karya batik Jepara tersebut kemudian menjadi bagian dari koleksi Museum Batik Pekalongan.

Kegiatan berlanjut dengan senam bersama yang melibatkan peserta dan komunitas Line Dance Pekalongan. Suasana halaman Museum Batik pun berubah menjadi ruang perjumpaan masyarakat yang penuh aktivitas.

Kemudian, sebuah gunungan berisi nasi bungkus diarak menuju depan Museum Batik Pekalongan. Tradisi sederhana itu sontak menarik perhatian peserta dan masyarakat yang berada di lokasi.

SENAM BERSAMA : Usai upacara, digelar senam Bersama dan tarian batik, saat peringatan HBN di Kota Pekalongan, pada Jumat (2/10/2026).(Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)
SENAM BERSAMA : Usai upacara, digelar senam Bersama dan tarian batik, saat peringatan HBN di Kota Pekalongan, pada Jumat (2/10/2026).(Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)

Iring-iringan tersebut semakin meriah dengan penampilan tarian “Teh Hijau” dari Tulus yang belakangan viral di TikTok.

Begitu gunungan tiba di depan museum, peserta langsung berebut nasi bungkus. Momen tersebut menciptakan suasana riuh dan penuh kegembiraan.

Perayaan kemudian ditutup dengan makan bersama. Peserta dan tamu undangan menikmati makanan yang telah disiapkan sambil bercengkerama di kawasan Museum Batik Pekalongan.

Bagi Pemkot Pekalongan, rangkaian tersebut menjadi cara untuk merayakan batik tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

 

Di tengah kemeriahan Hari Batik Nasional, pesan tentang keberlanjutan tetap menjadi perhatian. Batik harus terus hidup, pembatik harus tetap memiliki ruang untuk berkarya, lingkungan harus dijaga, dan generasi muda perlu terus dikenalkan dengan warisan budaya yang menjadi identitas Kota Pekalongan.

Dengan begitu, predikat Kota Batik Dunia bukan hanya sesuatu yang dibanggakan setiap Hari Batik Nasional, tetapi menjadi tanggung jawab yang dikerjakan bersama sepanjang tahun.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
Hari Batik Nasional 2026 Kota Batik Dunia kota pekalongan museum batik pekalongan batik pekalongan