METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Menyandang predikat Kota Batik Dunia bukan sekadar kebanggaan bagi Pekalongan.
Di balik geliat industri batik yang menggerakkan ekonomi dan menjadi identitas kota, terselip tanggung jawab besar untuk memastikan proses produksinya tetap ramah lingkungan.
Persoalan limbah menjadi salah satu pekerjaan rumah yang kini kembali mendapat perhatian Pemerintah Kota Pekalongan.
Pada momentum Hari Batik Nasional (HBN) 2026, Wali Kota Pekalongan H. A. Afzan Arslan Djunaid atau Aaf menegaskan bahwa predikat tersebut harus terus dipertahankan, termasuk dengan membenahi persoalan limbah industri batik.
UNESCO mencatat Pekalongan sebagai anggota Creative Cities Network sejak 2014 dalam kategori Crafts and Folk Art. UNESCO juga menyebut Pekalongan sebagai “Batik City” dan menempatkan pengembangan industri batik yang ramah lingkungan sebagai salah satu arah pengembangan kota.
Karena itu, bagi Pemkot Pekalongan, keberlanjutan batik tidak cukup hanya dilihat dari sisi budaya, kreativitas, dan nilai ekonomi. Pengelolaan limbah menjadi bagian penting agar perkembangan industri batik berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.
Baca Juga: HBN 2026 di Kota Pekalongan, Ada Gunungan Nasi Hingga Senam Bersama
“Kita patut berbangga bahwa Kota Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia ini harus kita pertahankan. Tetapi bukan berarti masalah sudah selesai.
“Kita patut berbangga bahwa Kota Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia ini harus kita pertahankan. Tetapi bukan berarti masalah sudah selesai.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti masalah limbah, bahan baku yang naik, dan tenaga pembatik,” kata Aaf saat dikonfirmasi, Minggu, (4/10/2026).
Salah satu langkah yang didorong Pemkot Pekalongan ialah pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL komunal melalui pola kemitraan.
Skema tersebut dinilai lebih realistis bagi pelaku UMKM batik, terutama industri rumahan yang memiliki keterbatasan modal.
Dengan fasilitas bersama, beberapa pelaku usaha dapat memanfaatkan satu sistem pengolahan limbah tanpa harus membangun instalasi sendiri sesuai standar.
“Sudah kita buat program dengan kemitraan untuk limbah komunal UMKM. Jadi satu limbah bisa untuk beberapa UMKM, itu yang sudah kita jalankan. Karena kalau secara hitung-hitungan ekonomi UMKM harus membuat pengolahan limbah sesuai standar sendiri, tentu cukup berat,” ujar Aaf.
Langkah tersebut menjadi penting karena persoalan limbah tidak berhenti pada satu lokasi usaha.
Aliran sungai yang melintasi sejumlah wilayah membuat pencemaran lingkungan membutuhkan penanganan secara bersama-sama.
Baca Juga: Fajar Randi, dari Panggung Musik ke Dunia Pemilu
Pemkot Pekalongan pun membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mengkaji metode penanganan limbah sungai yang lebih efektif.
Pemkot Pekalongan pun membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mengkaji metode penanganan limbah sungai yang lebih efektif.
Selain itu, koordinasi dengan pemerintah daerah di sekitar Pekalongan juga diperlukan, terutama karena wilayah hulu berada di luar administrasi Kota Pekalongan.
“Untuk teknis kita juga harus koordinasi dengan kabupaten, karena hulunya di sana, hilirnya di sini. Yang selalu punya masalah besar itu pasti di hilir,” kata Aaf.
Kolaborasi tersebut tidak hanya menyangkut kajian teknis. Implementasi penanganan limbah juga masih membutuhkan pembahasan mengenai perizinan, mekanisme kerja sama hingga pembiayaan.
Di sisi lain, kesadaran para perajin, pemilik usaha atau juragan, hingga masyarakat juga menjadi bagian penting. Industri batik yang berkelanjutan membutuhkan komitmen bersama agar keuntungan ekonomi tidak berjalan dengan mengorbankan kualitas lingkungan.
Langkah ini sejalan dengan arah UNESCO yang memasukkan pengembangan industri batik yang ramah lingkungan serta penguatan kolaborasi dengan akademisi, pemerintah dan masyarakat sebagai bagian dari visi Pekalongan sebagai Creative City of Crafts and Folk Art.
Bagi Pekalongan, menjaga predikat Kota Batik Dunia pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan nama besar.
Tantangannya adalah memastikan batik tetap tumbuh, perajin tetap memiliki ruang untuk berkembang, ekonomi lokal terus bergerak, dan lingkungan tidak menjadi korban dari perkembangan industri.
“Dengan kolaborasi tersebut, batik Pekalongan diharapkan tetap lestari, berkembang secara kreatif, sekaligus mampu menjadi penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan,” tukas Aaf.(han)
Sumber : metropekalongan.com